Beranda Berita Terbaru

Yayasan di Masbagik Diduga Potong Bansos Anak Yatim

0
Foto: Amplop dan uang senilai Rp200 ribu diberikan kepada Anak Yatim oleh Yayasan Ar-Rahman.

Lombok Timur – Yayasan Ar-Rahman yang berlokasi di Desa Masbagik Selatan, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur diduga memotong Bantuan Sosial (Bansos) yang diperuntukkan bagi anak yatim.

Diketahui Bansos berupa uang tunai senilai Rp600 ribu itu merupakan salah satu program Kementerian Sosial (Kemensos) RI yang bernama Atensi Yapi (Yatim Piatu).

Namun sayangnya, uang senilai Rp600 ribu yang seharusnya diberikan kepada anak yatim justru nominal yang diterima tidak sesuai.

“Uang yang kami terima di dalam amplop sebesar 200 ribu dan juga diberikan paket sembako,” ungkap Wahyu (12) nama samaran, salah satu anak yatim yang dapat Bansos dari Yayasan Ar-Rahman, saat ditemui di kediamannya. (23/11/23)

Kronologi awalnya, pada saat itu Wahyu didampingi oleh Kakaknya (21) bersama anak yatim lainnya dipanggil untuk mendapatkan santunan dari Yayasan Ar-Rahman, pada hari Minggu, 19 November 2023.

Setelah sampai di alamat Yayasan Ar-Rahman, Ia dan penerima lainnya langsung diberikan uang tunai dengan jumlah Rp600 ribu per masing-masing anak oleh pihak Kantor Pos Masbagik, karena pencairan Bansos ini melalui kantor Pos setempat.

“Uang yang 600 ribu itu kemudian ditarik lagi oleh pengurus yayasan ar-rahman,” beber Kakak dari Wahyu yang pada saat itu ikut mendampingi sebagai Wali.

Seusai uang Rp600 ribu itu ditarik, Wahyu dan penerima lainnya diberikan amplop yang berisi uang sebesar Rp200 ribu, lalu ada paket sembako yang di dalamnya berisi beras 5kg, energen sachet 3 biji, kopi sachet 5 biji, minyak 1kg, mie instan 4 buah, dan gula pasir 1kg yang kata pihak Yayasan Ar-Rahman diklaim seharga Rp150 ribu.

Kemudian untuk biaya operasional pengurus Yayasan Ar-Rahman Rp150 ribu dan penyisihan bagi anak yatim yang belum dapat sebesar Rp100 ribu. Maka total keseluruhannya menjadi Rp600 ribu.

Berdasarkan hasil penelusuran barbareto.com, anak yatim penerima Bansos melalui Yayasan Ar-Rahman ini mayoritas merasa kecewa, karena pada saat penandatanganan adminstrasi dari pihak Kantor Pos tertera nominal yang seharusnya didapatkan sebesar Rp600 ribu. Namun karena ditarik lagi oleh pihak Yayasan sehingga yang diterima hanya Rp200 ribu.

Diketahui, Yayasan Ar-Rahman mendapatkan kuota penerima Bansos yatim piatu program dari Kemensos RI ini sebanyak 150 anak yatim piatu di tahun 2023, yang dicairkan melalui Kantor Pos Kecamatan Masbagik.

Terpisah, Ketua Yayasan Ar-Rahman, Herni Yuliati, mengklarifikasi jika pembagian Bansos program Kemensos RI itu bukanlah pemotongan. Melainkan hasil kebijakan lembaga bersama dengan wali yatim pada saat setelah dicairkan oleh Pos Masbagik.

“Kemarin ada yang telat dateng juga walinya, mungkin mereka tidak mendengar hasil kesepakatan dengan para wali anak yatim lainnya,” jawab Yuli saat ditanya barbareto.com mengenai kenapa uang Bansos itu tidak diterima penuh Rp600 ribu oleh anak yatim.

Maka dari itulah, menurutnya, Bansos senilai Rp600 ribu itu bentuknya dipisah-pisahkan lagi, berupa uang Rp200 Ribu, paket sembako senilai Rp150 ribu, dan disisihkan juga Rp100 ribu untuk anak yatim yang tidak keluar namanya saat divalidasi oleh pihak Kemensos RI.

Sebab, kata Yuli, beberapa anak yatim yang tinggal didekat Yayasan Ar-Rahman justru tidak keluar namanya ketika sudah divalidasi oleh Kemensos RI.

Oleh sebab itulah, Ia bersama dengan wali anak yatim lainnya, bersepakat untuk mensiasati anak yatim yang tidak dapat supaya disisihkan Rp100 ribu, yang bertujuan agar semua anak yatim yang terdata di Yayasan Ar-Rahman yaitu sebanyak 300 orang lebih, bisa menerima Bansos. Sedangkan yang keluar namanya di Kemensos RI hanya 150 anak yatim.

Terkait dengan perubahan Bansos yang awalnya secara tunai ke paket sembako, Yuli mengatakan, prosedur pembagian Bansos itu sudah terikat dengan petunjuk teknis cara membagikannya.

“Disitu sudah ada juklat-juknis yang kita ikuti, jadi tujuan Atensi Yapi ini ada tujuh kriteria disitu, salah satunya pemenuhan kebutuhan karbohidrat, jadi kalau salah satu dari tujuan itu tidak terpenuhi maka anak itu bisa dicoret sebagai penerima,” jelasnya. (gok)

Exit mobile version