Formabes Tegaskan Ruang Dialog Harus Sehat Kedepankan Data, Logika dan Fakta

formabes
Ketua Forum Masbagik Bersatu (Formabes), Syamsul Huda. (Dok. Istimewa)

Lombok Timur, barbareto.com – Ketua Forum Masbagik Bersatu (Formabes), Syamsul Huda, memberikan respon dan klarifikasi untuk meluruskan atas pemberitaan media Barbareto yang berjudul “Sahut Lidah Era Iqbal-Dinda: Kader NW Kritik Tajam, Formabes Pasang Badan”.

Kepada media ini, Ketua Formabes, Syamsul Huda menegaskan bahwa ruang publik harus dijaga sebagai ruang dialog yang sehat, berbasis data, serta menjunjung tinggi etika dan rasionalitas.

“Kami di Formabes pada prinsipnya menghargai setiap kritik sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Kritik adalah energi penting dalam mendorong perbaikan tata kelola pemerintahan,” ujarnya.

Namun demikian, ia menilai pemberitaan tersebut perlu diluruskan agar tidak menimbulkan persepsi yang kurang tepat di tengah masyarakat. Menurutnya, istilah “sahut lidah” yang digunakan dalam judul tidak mencerminkan substansi yang sebenarnya terjadi.

“Sejak awal, kami tidak berada dalam posisi berdebat secara emosional. Formabes menyampaikan tanggapan secara terukur, berbasis data, dan dalam kerangka argumentasi yang rasional,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa seluruh pandangan yang disampaikan Formabes merujuk pada data resmi, termasuk data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebagai dasar dalam melihat capaian pembangunan daerah.

“Dalam tradisi berpikir yang kami bangun, kritik maupun pembelaan terhadap kebijakan publik harus berpijak pada fakta yang dapat diverifikasi. Di situlah letak tanggung jawab intelektual,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perbedaan pandangan dalam demokrasi adalah hal yang wajar, namun harus dikelola dalam kerangka yang sehat dan konstruktif.

“Perbedaan pandangan tidak seharusnya dipersepsikan sebagai konflik. Justru di situlah ruang dialog terbuka, selama semua pihak mengedepankan data, logika, dan etika,” ujarnya.

Terkait dengan substansi tanggapan Formabes sebelumnya, Syamsul Huda menegaskan bahwa pihaknya hanya berupaya menghadirkan perspektif yang lebih utuh, dengan mengacu pada indikator pembangunan yang terukur.

Ia menilai bahwa penyederhanaan persoalan pembangunan menjadi sekedar narasi “tanpa arah” tidak mencerminkan kompleksitas realitas yang ada.

“Pembangunan daerah adalah proses yang bertahap, terukur, dan memiliki indikator yang jelas. Karena itu, penilaiannya juga harus menggunakan parameter yang objektif,” tambahnya.

Syamsul Huda juga mengingatkan pentingnya peran media dalam menjaga kualitas diskursus publik.

“Media memiliki posisi strategis dalam membentuk cara pandang masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan diksi, framing, dan penyajian informasi perlu mempertimbangkan akurasi, proporsionalitas, dan nilai edukatif,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa Formabes akan terus menjaga komitmen sebagai organisasi yang mengedepankan sikap kritis yang bertanggung jawab.

“Kami terbuka terhadap kritik dari siapa pun. Namun kami juga percaya bahwa kritik yang kuat adalah kritik yang berbasis data, argumentatif, dan berorientasi pada solusi,” pungkasnya. (*)

TIDAK ADA KOMENTAR

Exit mobile version