Lombok Timur, barbaretodotcom – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Lombok Timur mendesak Bupati Lombok Timur untuk segera menghadirkan Rumah Sakit Tipe D di Kecamatan Pringgabaya.
“Ini sebagai kebutuhan mendesak mengingat Pringgabaya merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar kedua setelah kecamatan masbagik,” kata Yandis Ketua IMM Lombok Timur. (10/4/2026)
Dengan populasi yang sangat padat, kebutuhan layanan kesehatan yang cepat, terjangkau, dan memadai menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi.
“Saat ini, masyarakat pringgabaya masih menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan rujukan, sehingga harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mendapatkan pelayanan medis yang lebih lengkap,” tambah aktivis IMM asal Pringgabaya itu.
Kondisi ini tidak hanya menyulitkan masyarakat, tetapi juga berpotensi memperlambat penanganan pasien dalam kondisi darurat. Oleh karena itu menurutnya, kehadiran Rumah Sakit Tipe D di Pringgabaya menjadi solusi strategis untuk Meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat yang terjangkau.
“Dan tentu ini untuk Mewujudkan pemerataan pembangunan di sektor kesehatan yang ada Lombok timur,” tandasnya.
IMM Lombok Timur menegaskan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan harus berbasis pada kebutuhan riil masyarakat. Dengan jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang luas, Kecamatan Pringgabaya sudah sangat layak memiliki rumah sakit sendiri.
“Kita bisa melihat dengan populasi penduduk yang padat pringgabaya hanya di bekali 2 puskesmas, sementara jarak wilayahnya juga sangat jauh,” paparnya.
Kami dorong bupati Lombok timur untuk di bangun rumah sakit bukan bangun puskesmas.
Maka dari itu, Ia mendorong Bupati Lombok Timur agar membangun Rumah Sakit, bukan membangun Puskesmas. Terlebih lagi akan dibangun sekolah garuda di wilayah Pringgabaya yang semakin menguatkan alasan pembangunan RS di Pringgabaya.
Lebih lanjut, Ia menyebut terdapat 15 Desa di Kecamatan Pringgabaya dengan memiliki jarak geografis yang sagat jauh. Selain itu Pringgabaya juga dikenal sebagai zonasi industri dan memiliki 4 pelabuhan strategis yang memiliki potensi kecelakaan kerja tinggi.
“Kalau misalnya Hospital lombok yang ada di pringgabaya itu akan di jadikan puskesmas rawat inap ini sebuah kemunduran. Masak Rumah sakit di sulap jadi puskesmas Apa gk kebalik?,” tutup Yandis dengan tanda tanya. (gok)
