Bukber: Ketika Ramadhan Menghidupkan Persaudaraan

Published:

Oleh: H. Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos, M.H.

Bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim. Ia tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah personal, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan yang kembali menghangatkan hubungan antarmanusia. Salah satu fenomena yang hampir selalu hadir setiap Ramadhan adalah tradisi buka bersama atau yang populer disebut bukber.

Memasuki pertengahan hingga penghujung Ramadhan, undangan buka bersama mulai bermunculan dari berbagai arah. Teman semasa sekolah, sahabat kuliah, rekan kerja, hingga keluarga besar yang lama tak bersua seolah dipertemukan kembali oleh satu momentum yang sama. Buka bersama pun menjadi lebih dari sekedar agenda makan selepas puasa. Ia menjelma sebagai ruang perjumpaan yang menghidupkan kembali kebersamaan.

Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat dan individual, pertemuan fisik justru semakin jarang terjadi. Banyak hubungan yang tetap terhubung melalui pesan singkat dan media sosial, tetapi kehilangan kehangatan tatap muka.

Dalam situasi seperti ini, tradisi buka bersama memiliki makna sosial yang semakin penting. Bukber menjadi semacam “jalan pulang” bagi silaturahmi. Ia menghadirkan kembali suasana kebersamaan yang mungkin lama tak dirasakan. Tawa yang pecah di meja makan, cerita lama yang kembali diingat, hingga percakapan ringan tentang kehidupan masing-masing menjadi bagian dari kehangatan yang tidak tergantikan oleh komunikasi digital.

Dalam perspektif ajaran Islam, menjaga persaudaraan memiliki kedudukan yang sangat penting. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menekankan pentingnya hubungan yang harmonis antar sesama manusia.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan merupakan fondasi penting dalam kehidupan umat. Persaudaraan tidak hanya dibangun melalui kesamaan iman, tetapi juga dipelihara melalui interaksi, kepedulian, dan komunikasi yang terus dijaga.

Al-Qur’an juga mengingatkan pentingnya menjaga etika sosial agar hubungan antar manusia tetap terpelihara: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik dari mereka yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11).

Ayat ini mengajarkan bahwa hubungan sosial yang sehat harus dibangun di atas rasa saling menghormati, bukan pada sikap merendahkan atau menghakimi orang lain.

Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama bukan sekedar nilai sosial, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Silaturahmi bukan hanya tradisi budaya, melainkan bagian dari ajaran agama yang membawa keberkahan dalam kehidupan.

Dalam konteks ini, buka bersama dapat menjadi salah satu sarana untuk menghidupkan kembali nilai tersebut. Ia menjadi ruang pertemuan yang memungkinkan orang saling menyapa kembali, mendengar cerita satu sama lain, dan memperbaharui hubungan yang mungkin sempat renggang oleh jarak dan kesibukan.

Dari sudut pandang sosiologi, tradisi berkumpul seperti buka bersama memiliki fungsi sosial yang sangat penting. Sosiologi memandang manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Hubungan sosial yang terjalin melalui pertemuan dan interaksi menjadi fondasi dalam membangun rasa kebersamaan dalam masyarakat.

Pertemuan-pertemuan informal seperti bukber menciptakan ruang interaksi yang cair dan hangat. Dalam ruang seperti ini, sekat-sekat formal sering kali mencair. Orang yang sebelumnya hanya berkomunikasi secara singkat melalui pesan digital kembali berbincang secara langsung. Hubungan yang mungkin sempat renggang pun perlahan kembali menghangat.

Lebih dari itu, bukber juga sering menjadi momentum rekonsiliasi sosial. Tidak jarang orang yang lama tidak berkomunikasi akhirnya kembali bertemu dan memperbaiki hubungan melalui pertemuan seperti ini. Suasana Ramadhan yang penuh keberkahan sering kali melunakkan hati dan membuka ruang untuk saling memaafkan.

Tradisi buka bersama memperlihatkan bagaimana nilai-nilai agama dapat bertransformasi menjadi praktik sosial yang hidup di tengah masyarakat. Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah secara individual, tetapi juga menjadi ruang sosial yang memperkuat solidaritas dan kebersamaan.

Namun demikian, esensi dari buka bersama tentu tidak boleh berhenti pada sekedar agenda berkumpul atau makan bersama. Yang lebih penting adalah bagaimana momentum tersebut dimanfaatkan untuk benar-benar mempererat hubungan, memperbaiki komunikasi, dan menghidupkan kembali nilai silaturahmi.

Ramadhan mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya terletak pada hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga pada cara manusia memperlakukan sesamanya. Menjaga hubungan baik, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan kembali kehangatan dalam relasi sosial adalah bagian dari nilai-nilai yang diajarkan oleh agama.

Ketika orang-orang berkumpul di satu meja untuk berbuka puasa, sesungguhnya yang dirayakan bukan hanya berakhirnya puasa pada hari itu. Yang dirayakan juga adalah pertemuan, kebersamaan, dan kembalinya rasa persaudaraan.

Di tengah kesibukan hidup yang sering memisahkan manusia, Ramadhan seolah mengingatkan bahwa hubungan antar manusia tetaplah sesuatu yang berharga. Bahwa di balik jarak dan rutinitas yang memisahkan, selalu ada jalan untuk kembali bertemu. Dan mungkin di situlah salah satu keindahan Ramadhan: ia tidak hanya mendekatkan manusia kepada Allah, tetapi juga membuka jalan bagi manusia untuk kembali menemukan sesamanya.

Redaksi Barbareto
Redaksi Barbaretohttps://barbareto.com
Redaksi Barbareto merupakan tim jurnalis yang bertugas melakukan peliputan, penulisan, dan penyuntingan berita dengan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan Pedoman Media Siber. Setiap konten yang diterbitkan melalui proses verifikasi dan tanggung jawab redaksional.

Related articles

Puasa dan Seni Hidup dalam Perbedaan

Recent articles