Soroti Tata Kelola, Aktivis KAMMI Datangi Kementerian Pariwisata Bawa Kain Kafan

Published:

- Advertisement -

BARBARETO – Datangi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) melakukan aksi simbolik dengan membawa kain kafan sepanjang 20 meter serta menyalakan lilin sebagai bentuk refleksi dan peringatan atas kondisi tata kelola pariwisata nasional. Senin, 19 Januari 2026.

Wakil Ketua Umum PP KAMMI, Herianto, menyampaikan bahwa aksi simbolik ini merupakan langkah awal PP KAMMI dalam menyuarakan kepedulian terhadap arah pembangunan pariwisata Indonesia agar lebih berorientasi pada aspek keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan.

“Aksi mengkafani Kementerian Pariwisata dengan kain sepanjang 20 meter dan menyalakan lilin merupakan simbol refleksi sekaligus peringatan. Ini adalah langkah awal kami untuk mengawal pariwisata Indonesia agar tidak hanya berjalan secara seremonial, tetapi benar-benar berpihak pada keselamatan dan kenyamanan wisatawan,” ujar Herianto.

Ia menilai, hingga saat ini belum terlihat terobosan konkret dari Kementerian Pariwisata dalam menjawab persoalan mendasar yang terjadi di berbagai destinasi wisata. Menurutnya, keamanan dan kenyamanan masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum ditangani secara serius.

“Kami belum melihat pembenahan yang signifikan, khususnya terkait sistem keamanan, mitigasi risiko, serta standar kenyamanan di tempat-tempat wisata. Jika hal ini terus diabaikan, dampaknya bukan hanya pada citra pariwisata nasional, tetapi juga pada menurunnya minat kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” tambahnya.

Lebih lanjut, Herianto menekankan bahwa pariwisata seharusnya menjadi sektor strategis yang mampu memberikan rasa aman bagi seluruh pengunjung, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Kementerian Pariwisata Lebih Banyak Pencitraan

Sementara itu, Ogy Sugianto, Kepala Bidang Pariwisata dan Investasi PP KAMMI, menyoroti kecenderungan Kementerian Pariwisata yang dinilainya lebih menitikberatkan pada pencitraan dibandingkan pembenahan substansi di lapangan.

“Kami melihat Kementerian Pariwisata lebih sibuk membangun narasi dan pencitraan daripada memastikan kesiapan destinasi wisata secara nyata. Padahal, keberlanjutan pariwisata tidak bisa hanya ditopang oleh promosi, tetapi harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur, SDM, dan sistem penanganan darurat,” tegas Ogy.

Ia juga mengingatkan bahwa sejumlah insiden yang terjadi di kawasan wisata menjadi alarm serius bagi pemerintah. Salah satu insiden yang mendapat sorotan luas media internasional adalah peristiwa yang menimpa pelatih Valencia dan keluarganya saat berwisata di Indonesia.

“Insiden tersebut menjadi perhatian dunia. Ditambah lagi, beberapa kejadian kecelakaan di destinasi wisata menunjukkan proses evakuasi yang berjalan lambat. Ini menandakan bahwa kita belum memiliki kesiapan yang memadai dalam menghadapi situasi darurat di kawasan wisata,” lanjut Ogy.

Menurutnya, tanpa evaluasi menyeluruh dan langkah perbaikan yang konkret, pariwisata Indonesia berpotensi kehilangan kepercayaan publik dan wisatawan internasional.

PP KAMMI berharap, melalui aksi dan penyampaian aspirasi ini, Kementerian Pariwisata dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan dan implementasi di lapangan, serta membuka ruang dialog yang konstruktif dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.

“Pariwisata yang maju bukan hanya soal angka kunjungan, tetapi juga tentang rasa aman, kenyamanan, dan keberlanjutan. Inilah yang terus kami dorong dan kawal,” tutup Ogy Sugianto.

- Advertisement -
Redaksi Barbareto
Redaksi Barbaretohttps://barbareto.com
Redaksi Barbareto merupakan tim jurnalis yang bertugas melakukan peliputan, penulisan, dan penyuntingan berita dengan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan Pedoman Media Siber. Setiap konten yang diterbitkan melalui proses verifikasi dan tanggung jawab redaksional.

Related articles

Recent articles