Berkah MTQ XXIX Bagi UMKM Lotim

Berkah MTQ XXIX Bagi UMKM Lotim

BARBARETO.com | Ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXIX Tingkat Provinsi NTB telah berakhir pada rabu malam kemarin. Acara yang spektakuler tersebut langsung ditutup secara resmi oleh Wakil Gubernur NTB, DR. Hj. Sitti Rohmi Djalillah di lapangan umum Gotong Royong, Masbagik, Lombok Timur (Lotim).

Sejak digelar mulai tanggal 29 Juni hingga 6 Juli 2022, beragam komentar dari sejumlah peserta mewakili daerahnya masing-masing memberikan penilaian atas pelaksanaan MTQ kali ini.

Kabupaten Lombok Timur selaku tuan rumah patut berbangga telah dinobatkan sebagai kabupaten yang memiliki reputasi terbaik dalam penyelenggaraan MTQ tingkat propinsi NTB selama ini.

Tidak hanya peserta dan panitia yang mendaparkan keberkahan dalam acara spritual tersebut. Banyak masyarakat bahkan pedagang kecil mendapatkan keberkahan dari event spritual yang diselenggarakan.

Ribuan pedagang kecil ikut bergembira menikmati dampak secara langsung. Setiap hari ribuan pedagang kecil seperti pedagang kacang, pedagang cilok, pedagang minuman, pedagang makanan sampai ke bisnis yang menengah seperti konveksi dan jasa penginapan pun menikmati keberkahan tersebut.

Seperti yang disampaikan dalam acara pembukaan kemarin, Bapak Gubernur NTB mendorong program-program yang berbentuk Event untuk menggerakkan perekonomian NTB. Dan NTB membutuhkan event-event yang sifatnya mampu memberikan dampak mercusuar bagi NTB agar dapat dilirik oleh pemerintah pusat, investor bahkan dunia internasional.

Namun, tulisan ini akan lebih mengupas seperti apa dampak langsung yang diterima oleh pedagang mikro dan kecil atas terselenggaranya event MTQ ini.

Sejak dibukanya event MTQ ini, penulis mencoba menggali informasi dalam bentuk wawancara langsung dengan pedagang dan pelaku UMKM yang terlibat secara langsung dalam MTQ yang diselenggarakan.

Kita ketahu bersama bahwa Pandemi Covid-19 telah membawa perekonomian nasional dan global ke arah resesi ekonomi. Begitupun secara daerah yaitu NTB yang selama ini menggantungkan perekonomiannya secara makro pada pergerakan pariwisata, walaupun sebenarnya pondasinya tetap pada sektor pertanian secara umum.

Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi nasional dan global yang negatif atau kontraksi. Perekonomian nasional sendiri, baru mengalami kontraksi pada triwulan II tahun 2020 dengan pertumbuhan ekonomi -5,3%. Beruntung pada semester I tahun 2022 ini menunjukkan peningkatan walaupun pergerakan sedikit melambat.

Kontraksi tersebut terutama disebabkan oleh penurunan konsumsi rumah tangga akibat pembatasan sosial untuk mencegah Covid-19, penurunan belanja investasi termasuk untuk pembangunan dan perolehan aset tetap, dan penurunan realisasi belanja pemerintah termasuk belanja barang.

Disamping itu, terjadi penurunan perdagangan luar negeri yang cukup tajam. Palung penurunan pertumbuhan ekonomi telah dilalui pada triwulan II, namun Covid-19 masih akan menahan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III dan IV. Oleh sebab itu, Pemerintah berupaya untuk meningkatkan performance ekonomi nasional pada triwulan III dan diharapkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 sekitar -0,4% sampai 1%.

Untuk mencapai hal tersebut, Pemerintah melaksanakan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang diharapkan efektif mulai triwulan III.

PEN tersebut terdiri dari 3 (tiga) kebijakan utama yaitu peningkatan konsumsi dalam negeri (demand), peningkatan aktivitas dunia usaha (supply) serta menjaga stabilitas ekonomi dan ekpansi moneter.

Ketiga kebijakan tersebut harus mendapat dukungan dari Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, BUMN/BUMD, pelaku usaha, dan masyarakat.

Bagaimana Kebijakan Ekonomi NTB?

Dalam menggerakkan perekonomian masyarakat, harus mengutamakan UMKM. Pola usaha harus meneruskan kearifan lokal, sesuai dengan apa yang menjadi kekayaan dasar masyarakat NTB.

Melihat hal itu, Pemerintah Daerah terus membuat strategi dan kebijakan yang menggerakkan roda bisnis pada sektor UMKM. Beberapa langkah strategis yang dilakukan oleh Pemerintah daerah NTB yaitu dengan memperbanyak Event. Baik yang berskala lokal, nasional maupun Internasional.

Dimulai dengan perhelatan super bike di penghujung tahun 2021 dan perhelatan event MotoGP pada awal tahun 2022 yang lalu. Dan saat ini pemerintah daerah pun sedang melaksanakan Event Motor Kross MXGP yang berlangsung di Pulau Sumbawa.

Pelaksanaan event tersebut diharapkan akan mampu menggerakkan sektor UMKM. Sebagi contor berdasarkan beberapa analisa, pada perhelatan MotoGP yang lalu, perputaran ekonomi bagi UMKM cukup pantastis. Jika dilihat dari perputaran peredaran uang sampai 2 triliun.

Lombok Timur membaca peluang yang ditawarkan oleh Pemerintah Propinsi dengan mengambil tawaran menjadi tuan rumah event MTQ. Penulis melihat bahwa Event MTQ ini merupakan pintu masuk yang paling cocok bagi daerah Lombok Timur.

Hal ini dikarenakan bahwa Lombok Timur merupakan daerah yang berpondasi Religi. Hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya organisasi keagamaan yang ada di Lombok Timur. Organisasi keagamaan ini dimanivestasikan dalam bentuk menjamurnya pondok-pondok formal yang didirikan di semua desa.

Dari hasil analisis yang dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa perputaran uang secara langsung yang terjadi setiap malamnya sekitar 1,5 sampai 2 Milyar. Kesimpulan ini berdarkan analisa sederhana dari seberapa banyak transaksi yang dilakukan selama event berlangsung.

Hal ini dilihat dari jumlah pedagang kecil, jumlah penonton, aktivitas peserta, panitia dan masyarakat di sekitar lokasi event MTQ.
Dalam putaran ekonomi tersebut, yang paling dominan mendapatkan dampaknya adalah pedagang mikro dan kecil yang berjumlah 98,68%.

“Dagangan kami, paling lama habis sekitar jam 9 malam. Mungkin ini mukjizat dari Al’Quran” ungkap Amaq Ifin salah satu pedagang kacang rebus ketika diajak diskusi oleh penulis.

Salah satu pedagang cilok juga mengatakan bahwa kami pedagang merasakan keberkahan atas rezeki yang diperoleh. Pedagang sangat mengharapkan event-event yang sifatnya religi. Karena secara emosional dan secara spritual kami yang merasakannya, dari pada kami dibuatkan event-event yang sifatnya hura-hura.

Dilihat dari jumlahnya dana yang dikeluarkan, jumlah sumberdaya yang dilibatkan maupun promosi yang dilakukan penulis berani mengatakan bahwa event MTQ ini lebih menguntungkan secara ekonomi bagi pedagang mikro dan kecil dari pada event MXGP Samota. Namun, kita sebagai masyarakat NTB pun harus memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang telah membuat pondasi atas event-event yang berskala internasional maupun lokal.

Peranan pemerintah yang diperlukan adalah membuat peta jalan (road map) program pemulihan perekonomian daerah. Mengorganisir semua pihak yang terlibat dalam upaya pemulihan ekonomi. Pemerintah berupaya menyediakan dan memfasilitas adanya permodalan, baik berupa anggaran pemerintah maupun dari lembaga keuangan.

Pemerintah harus mendorong pengusaha mikro dan kecil yang ada di NTB untuk secara signifikan dan terorganisir membantu usaha rakyat dan UMKM yang berjuang memulihkan perekonomian daerah. Pemerintah harus dapat memfasilitasi pengembangan pemasaran atau dengan kata lain menciptakan iklim pasar yang baik bagi para pelaku-pelaku mikro ini.

Jika tidak, maka akan membuka kembali pintu-pintu migrasi bagi masyarakat NTB ke luar negeri. Kita harus belajar banyak dari kejadian kapal cepat yang tenggelam di perairan Riau kemarin. Karena kebanyakan yang menjadi korban adalah masyarakat NTB.

Sehingga jangan sampai seperti yang diungkapkan oleh teman-teman aktivis bahwa Event-Event Besar yang diselenggarakan oleh Pemerintah daerah hanya memberikan keuntungan bagi para pihak bukan untuk semua pihak. Namun MTQ ini mampu memberikan keuntungan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Semoga saja tidak seperti itu, Kita harus berfikiran positif bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah demi NTB Gemilang.

Penulis: Maharani – Peneliti LRC