Gelar Webinar yang Ke-3 di UHN IGB Sugriwa Denpasar: “UHN Menuju World Class University”

0
166
Gelar Webinar yang Ke-3 di UHN IGB Sugriwa Denpasar:
Foto : Prof. Dr. H. Engkus Kuswarno.

barbareto.com | Setelah sukses dengan dua penyelenggaran webinar, Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Hindu (IKH) Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar kembali menggelar Webinar Series ke-3, Kamis (31/3).

Webinar ini terasa istimewa, karena menghadirkan narasumber yang sangat berkompeten di bidangnya, yakni Prof. Dr. H. Engkus Kuswarno, MS, Guru Besar Ilmu Komunikasi FIKOM Universitas Padjadjaran Bandung.

Webinar ini pun disambut antusias, dengan kehadiran ratusan peserta yang ikut join pada zoom meeting.

Webinar Series ke-3 ini mengambil tema “Mengenal Tradisi Fenomenologi pada Riset Komunikasi Kualitatif”.

Selain menghadirkan Prof. Engkus, juga menghadirkan Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., sebagai keynote speaker dan Dosen Bidang Ilmu Komunikasi/Kaprodi Magister Ilmu Komunikasi Hindu UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Dr. I Dewa Ayu Hendrawathy Putri, S.Sos.,M.Si.

Pada kesempatan ini, Prof. Engkus memaparkan bagaimana Tradisi Fenomenologi ini berperan penting dalam riset yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dia memaparkan Fenomenologi merefleksikan pengalaman langsung manusia, sejauh pengalaman itu secara intensif berhubungan dengan suatu objek.

Fenomenologi juga sebuah studi tentang pengungkapan suatu fenomena yang tersembunyi agar menjadi fakta yang nampak, dan pendalaman fenomena yang nampak dengan mengungkapkan fakta yang tersembunyi.

“Tujuan utama Fenomenologi, adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, fikiran, dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau tidak diterima secara estetis,” kata Prof. Engkus.

Fenomenologi menurutnya untuk mengetahui dunia dari sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung atau yang berkaitan dengan sifat-sifat alami pengalaman manusia dan makna yang ditempelkan padanya.

Peneliti Fenomenologi harus menunda proses penyimpulan sebuah fenomena, dengan menempatkan fenomena tersebut terlebih dahulu dalam tanda kurang (bracketing).

“Peneliti mempertanyakan dan menelaah terlebih dahulu fenomena yang tampak, dengan mempertimbangkan aspek kesadaran yang ada padanya,” tegasnya.

Baca juga : UHN I Gusti Bagus Sugriwa Menuju World Class University

Sebagai contoh, Prof. Engkus menyampaikan Hasil Kajian Fenomenologi dalam kehidupan sehari-hari, pada Grup WhatsApp yang beranggotakan 251 orang.

Mengamati wacana yang ditulis warga, dari April-Juli 2020, khusus wacana Covid-19 dan Pebruari 2022 tentang Perkembangan Pengalaman 2 Tahun Covid-19.

Kemudian, Prof. Engkus melakukan tipikasi, sehingga ditemukan tiga tipikasi yang konsisten, yang ditindaklanjuti dengan melakukan elaborasi obrolan privat (wawancara) melalui media sosial (WA dan Telpon).

Kemudian melakukan tipikasi lanjutan berdasarkan hasil elaborasi.

Hasilnya, Tipikasi Pertama tentang Makna Pandemi Covid-19, yakni “Perilaku” Virus yang Dikonstruksi Manusia, Pengalaman Komunikasi Masyarakat dalam Masa Pandemi, dan Makna Terhadap Perilaku Komunikasi Pemerintah.

Selanjutnya, dari elaborasi makna perilaku virus yang dikonstruksi manusia, pertama didapatkan bahwa virus ini merupakan makhluk yang menyebar dan tingkat bahaya yang sangat tinggi bagi kesehatan manusia. Keyakinan “nempel-wafat” menjadi nilai filosofis yang menetap.

Kedua, makhluk yang penyebarannya dan tingkat bahayanya moderat. Sama seperti virus flu, komparasinya malah lebih bahaya SARS, MERS atau komparasi dengan wabah penyakit lain, seperti demam berdarah.

Ketiga, mahluk yang tingkat penyebaran dan bahayanya rendah, karena kehendak dan pertolongan tuhan. Jadi ada pendekatan religi, peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah di tempat ibadah.

Maka, dari tipikasi dan pemaknaan pada virus tersebut, Prof. Engkus menetapkan Karakteristik Tiga Tipologi Dalam Masa Dua Tahun Pandemi ini, antara lain:

Pertama adalah Tipologi Persona Paranoid, dalam masa dua tahun lebih banyak terdampak Covid-19 (mulai dari delta sampai omicron), menjadi tipologi yang lebih rentan. Relatif tidak berubah dan lebih dominan menarik diri dari lingkungan. Resiliensinya juga rendah.

Kedua, adalah Tipologi Persona Optimistik, yakni dalam masa dua tahun hanya beberapa orang yang sakit (teridentifikasi covid). Tetapi recoverynya cepat. Gaya Komunikasinya lebih terbuka, humoris, resiliensi tinggi.

Ketiga, Tipologi Persona Fatalistik, dalam masa dua tahun paling sedikit yang teridentifikasi covid. Tetapi paling sedikit menjadi pengguna vaksin. Cenderung apatis terhadap informasi yang datang dari pemerintah, termasuk diluar masalah pandemi. Ini termasuk resiliensinya moderat.

Narasumber lainnya, dari Kaprodi Magister Ilmu Komunikasi Hindu UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Dr. I Dewa Ayu Hendrawathy Putri, S.Sos.,M.Si., menambahkan dalam Tradisi Fenomenlogi ini, dia sedang mempersiapkan perencanaan penelitian terhadap Fenomena Penari Joged Bumbung di Bali.

Ini salah satu contoh permasalahan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut dengan pendekatan Tradisi Fenomenologi.

Seperti bagaimana kehidupan sesungguhnya Penari Joged hingga makna kehidupan Penari Joged.

Perencanaan penelitian ini menggunakan informan kunci, dari Penari Joged, Masyarakat, Pakar Psikologi, Pakar Seni, Budaya dan Tokoh Agama.

Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., menyampaikan terima kasih kepada Prodi Magister Illmu Komunikasi Hindu karena sudah berinovasi dikancah akademik, menuju World Class University.

Tema webinar ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas penulisan penelitian yang bisa dipublikasikan dalam jurnal.

“Ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam dunia akademis. Barang siapa yang menguasai komunikasi dan teknologi, dia akan menguasai dunia. Kalau buta komunikasi dan teknologi, ini sudah buta segalanya. Fenomenologi, ini berkatan dengan kesadaran, intensionalitas dan konstitusi. Ini penting untuk diperdalam dalam webinar. Sehingga dalam Fenomenologi Komunikasi, bisa memberikan rumusan penting kepada masyarakat,” katanya. (*)