Makna Hari Raya Saraswati, Banyu Pinaruh dan Pagerwesi

0
617
Makna Hari Raya Saraswati, Banyu Pinaruh dan Pagerwesi
Ida Jro Satya Dhama.

barbareto.com | Sabtu 26 Maret 2022, adalah tepat hari suci Saraswati.

Hari Raya Saraswati atau yang Dikenal pula sebagai piodalan pemujaan Ida Sang Hyang Aji Saraswati yang di rayakan setiap 210 hari atau setiap 6 bulan skali yg jatuh pada hari sabtu wuku watugunung akhir dari pada pewukuan.

“Kalau di India, Saraswati dirayakan sekali setahun, dengan nama Maha Saraswati Puja yang dilakukan setahun sekali,” jelas Ida Jro Satya Dhama.

Apa makna dari saraswati yaitu adalah turunya ilmu pengetahuan yang di sampaikan kepada manusia, maka hari saraswati adalah hari yg sangat penting buat kehidupan kita, karna turunnya ilmu pengetahuan berarti menghilangkan awidya atau kebodohan bagi manusia dan memberikan widya atau pengetahuan bagi umat manusia.

Dewi Saraswati di lambangkan dengan dewi yang sangat cantik dengan tangan empat kemudian membawa sitar/bina dan genitri dan pustaka/lontar serta angsa dan merak.

Dan itu semua membawa arti-arti yg sangat penting dalam ilmu pengetahuan.

Karna ilmu pengetahuan itu tidak hanya untuk kepintaran tetapi juga kebijaksanaan karna salah kita mengadopsi ilmu pengetahuan salah maka juga akan salah hasilnya .

Ida Jro Satya Dhama dari Pasraman Isyana Visnu Vardhana – Malang menjelaskan beliau di lambangkan sebagai seseorang wanita yang sangat cantik yang berarti ilmu pengetahuan adalah ilmu yang sangat cantik.

Dewi saraswati memegang genitri yang berputar trus tanpa ada ujungnya, ilmu pengetahuan juga begitu karna ilmu pengetahuan tidak pernah akan ada ujungnya, maka ada konsep yang di sebut belajar sampai tua.

Karna pengetahuan tidak akan putus seperti genitri.

Baca juga : Bertepatan Hari Raya Suci Saraswati Jembatan Serokadan-Bangunlemah Diresmikan

Kemudia ada kropak atau lontar yaitu simbul sucinya ilmu pengetahuan.

Pengetahuan itu harus diajarkan, harus diberikan, harus di implementasikan sehingga pengetahuan itu berguna dan memiliki arti itulah simbol dari pustaka lontar.

Kemudian ada bina itu adalah simbol bagaimana pengetahuan itu meliputi seni dan budaya, keindahan suara keindahan penampilan dan ilmu itu memiliki esensi yang sangat besar.

Salah kita mengartikan ilmu itu akan menjadi boomerang untuk kita, oleh sebab itu ilmu berada pada tatanan yang disebut budaya, tanpa budaya ilmu juga tidak akan berhasil dengan baik.

Disana kita juga melihat simbol angsa, angsa adalah binatang yang bisa menyeleksi karna kehidupan angsa sangat bersih, dia bisa hidup di lumpur tanpa terkena lumpur dan bisa menyeleksi atau membedakan mana makanan dan mana lumpur, artinya adalah didalam ilmu pengetahuan ada kebijaksanaan karna tanpa kebijaksanaan ilmu pengetahuan akan menjadi racun dan di dalam veda di sebutkan bahwa veda sangat takut kepada orang jahat, orang bodoh yang benar benar bodoh dalam artian orang yang suka membodohi, karna ilmu pengetahuan kalau tidak bijaksana maka ilmu pengetahuan itu akan menjadi boomerang, akan menjadi racun dalam kehidupan.

Contoh seperti menyebar berita bohong atau HOAX, memfitnah dan sebagainya. Ilmu pengetahuan harusnya tidak seperti itu harusnya yang bijaksana.

Selanjutnya ada burung merak yang maknanya burung yang sangat indah seperti ilmu pengetahuan itu sangat indah.

Ketika kita belajar ilmu pengetahuan ketika kita tau pengetahuan itu maka sangat indah sekali dan kita bisa membuat pengetahuan itu sebagai bentuk keindahan, misalnya sebagai puisi,nyanyian.

Dan kita akan menjadikan kehidupan kita bahagia dan indah dengan pengetahuan tersebut.

Ida jro juga menjelaskan, ihwal adanya mitos selama ini bahwa saat Saraswati tidak boleh belajar.

“Itu salah, malah seharusnya belajar karena ilmu pengetahuan sedang turun,” katanya. 

Namun etikanya sebelum belajar haruslah menghaturkan bakti terlebih dahulu kepada Tuhan.

Melalui bebantenan dan sembahyang di pura/merajan masing-masing.

Setelah itu selesai baru belajar atau membaca. Setelah itu, besoknya ada Banyupinaruh.

Filosofinya, kata beliau, pada saat menerima ilmu pengetahuan ketika Saraswati.

Maka besoknya ada Banyupinaruh, berarti bahwa pengetahuan terus mengalir. 

Sehingga ilmu pengetahuan yang didapat bagus dan bersih, maka dari itu diperlukan Asuci Laksana yakni menyucikan pikiran diri sendiri, serta menyucikan perilakunya sendiri.

Dengan demikian pengetahuan, yang diturunkan akan berguna dan memberikan manfaat yang besar.

Setelah itu, Buda Kliwon Sinta yang disebut dengan Pagerwesi. 

“Pagar dari besi artinya pagar yang kokoh, di sana kita memagari diri kita. Kemudian memagari diri kita jangan sampai pengetahuan disalahgunakan,” ujar beliau.

Sehingga manusia memiliki batasan mana yang baik dan buruk.

“Oleh sebab itu, Saraswati sangat penting buat kehidupan. Dan Saraswati harus diketahui oleh semua masyarakat baik tua atau muda serta anak-anak dan sebagainya. Jangan menganggap Saraswati hanya hari raya bagi murid-murid saja,” tegas beliau.

Saraswati juga sangat penting bagi seluruh umat manusia khususnya Hindu umat Hindu.

“Oleh sebab itu, dalam Saraswati umat harus mulat sarira artinya introspeksi diri dan melihat pengetahuan yang baik diambil yang buruk dibuang. Harus sembahyang, Asuci Laksana dan membuat banten Saraswati dengan ada nasi pradnyan, simbol mendapatkan kepinteran. Oleh sebab itu Saraswati tidak harus ada upacara besar, intinya saja dan ingat sembahyang kepada Tuhan dalam wujud Ida Sang Hyang Aji Saraswati,” sebut beliau. 

Sehingga dengan kecerdasan dan kebijaksanaan, bahwa telah diberikan pengetahuan untuk kesejahteraan bersama.

Agar tidak mudah diolok-olok atau dipolitisir dan digiring oleh orang lain.

Oleh sebab itu, ketika bijaksana dalam mengimplementasikan pengetahuan maka seseorang akan menjadi orang yang bahagia akan tenang dan tidak kena hoax.

Tidak terpancing oleh sesuatu yang tidak baik. 

Banyupinaruh diharapkan harus ke segara, atau ke danau, atau ke campuhan.

Tetapi jika tidak ada tidak apa apa bisa menggunakan toya kumkuman untuk melukat . (rls)