Mundur Dari Partai Gerindra, Budi Wawan: Saya Tidak Dibutuhkan Lagi Oleh Partai

0
283
Mundur Dari Partai Gerindra, Budi Wawan: Saya Tidak Dibutuhkan Lagi Oleh Partai
Foto : Budi Wawan

barbareto.com | Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Lombok Timur, Budi Wawan secara resmi mengundurkan diri dari Partai Gerindra.

Pengunduran dirinya itu diketahui berdasarkan surat yang dilayangkan pada 02 Februari 2022 lalu kepada Ketua DPC Partai Gerindra Lotim.

Dalam surat tersebut, Budi Wawan memaparkan sejumlah alasan Ia hengkang dari Partai Gerindra Lotim, di antaranya adalah karena orang-orang yang berhasil duduk di kursi legislatif tidak memperhatikan kader-kader lainnya yang telah menjadi pendulang suara bagi Partai.

Surat Pengunduran Diri Budi Wawan
Foto : Surat Pengunduran Diri Budi Wawan.

Selaku kader dan pengurus sejak tahun 2010 yang telah mengikuti pemilihan legislatif pada 2014 dan 2019 dengan perolehan suara yang cukup signifikan, namun gagal untuk duduk sebagai anggota DPRD.

Pada Pileg tahun 2009, lanjutnya, Partai Gerindra tidak memiliki kursi di DPRD, namun pada tahun 2014 dengan perjuangan semua kader berhasil mengantarkan Gerindra menduduki kursi DPRD sebanyak 5 kursi untuk 5 daerah pemilihan.

Ia sebagai kader yang gagal mendapatkan kursi tadinya berharap dari teman satu partai satu dapil yang berhasil duduk menjadi anggota DPRD memperhatikan kader-kader yang telah menjadi vote gater (pendulang suara) bagi partai.

Namun, kata Budi Wawan dalam surat tersebut, espektasi itu jauh dari kenyataan.

“Kader yang memperoleh kursi justru bersikap acuh tak acuh tanpa memperhatikan konstituen Kami dengan program aspirasi yang seharusnya terdistribusi pada setiap wilayah caleg caleg lainnya walaupun mereka tidak berhasil duduk. Karena pemilih kami adalah pemilih partai yang seharusnya diperhatikan oleh kader jadi,” sesalnya.

Selain itu, Ia juga merasa mekanisme partai tidak berjalan secara idealnya sebuah organisasi. Karena kesan yang lahir adalah pengelolaan partai yang didasarkan pada pendekatan like or dislike.

“Siapa yang disukai oleh pimpinan maka dia yang difungsikan,” Ketusnya.

Menurutnya, hal itu merusak mekanisme dan tatanan organisasi. Karena ruang hanya diberikan bagi kader yang hanya bisa mencari muka.

“Saya kader yang pernah duduk sebagai Sekretaris Cabang, dengan penuh totalitas bekerja untuk mengawal partai dalam tahap verifikasi KPU untuk 2 tahap Pileg yakni 2014 dan 2019,” paparnya sembari menyesal bahwa dirinya dengan kapasitas jabatan tersebut seharusnya diberikan reward dan penghargaan.

Baca juga : Gaduh Pergantian Pimpinan DPRD NTB, HBK Anggap Biasa Saja

Ia juga mengaju, selama menjadi kader partai Ia selalu merasa tidak nyaman dengan mekanisme organisasi yang terlalu banyak intervensi dari para petinggi.

“Gerindra sebagai partai kader yang memiliki AD/ART, seharusnya dikelola dengan mekanisme aturan yang konstitusional,” tegasnya melanjutkan alasannya mundur dari Partai Gerindra.

Selaku kader partai lama, Ia mengaku tak pernah dilibatkan dalam proses pergantian struktur kepengurusan dan juga pengambilan keputusan ataupun rapat-rapat partai.

“Saya merasa bahwa saya tidak dibutuhkan lagi oleh partai,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Sabtu (23/04/2022) terkait surat pengunduran dirinya itu, Budi Wawan membenarkan bahwa itu memang surat darinya.

“Benar,” singkatnya via WhatsApp.

Sampai saat ini, Ia mengaku belum masuk ke partai lain, namun masih dalam tahap menjajaki Partai mana yang bakalan Ia masuki.

“Masih menjajaki dan istikharah,” kata dia sembari menegaskan bahwa Ia bakal tetap dalam pendiriannya keluar dari Partai Gerindra meskipun keluhannya itu ditanggapi dan diperbaiki oleh Partai Gerindra.