Pepadu Peresean Menganggap Tanwir Anhar Tepat Pimpin Lotim 2024

0
249
Pepadu Peresean Menganggap Tanwir Anhar Tepat Pimpin Lotim 2024
Pepadu Peresean Menganggap Tanwir Anhar Tepat Pimpin Lotim 2024

barbareto.com | Tradisi peresean merupakan pertunjukan yang menjadi symbol kesatria pada zaman dahulu di pulau Lombok. Tradisi peresean memiliki makna maskulinitas.

Melalui seni pertunjukan peresean ini akan lahir pepadu-pepadu atau orang-orang yang terlatih, pemberani, memiliki jiwa pantang mundur dalam menghadapi kesulitan.

Namun seiring dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat, pandangan tentang maskulin mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. 

Tradisi peresean telah mengalami perubahan, tradisi peresean jaman dahulu berbeda dengan yang sekarang.

Perubahan yang terjadi tidak terlepas dari perkembangan suatu masyarakat yang nantinya berdampak pada perubahan pengetahuan dan pandangan masyarakat termasuk mengenai tradisi peresean

Dalam kehidupan masyarakat yang semakin komplek yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan mengakibatkan perubahan budaya yang ada di masyarakat termasuk tradisi peresean.

Arus globalisasi dan modernisasi menjadikan terkikisnya nilai-nilai budaya lokal yang ada di masyarakat.

Bahkan kepedulian masyarakat untuk mempertahankan eksistensi budaya-budaya yang ada ditengah kehidupun masyarakatpun turut menurun.

Untuk itu, dalam menjaga tradisi dan menjaga keselarasan tradisi dengan pembangunan daerah, dibutuhkan pemimpin yang mampu maracik budaya dan pembangunan sebagai salah satu kekuatan daerah.

Pemimpin yang handal melihat budaya sebagai salah satu kekuatan pembangunan.

Baca juga : Dua Politisi Senior Lotim Duduk Bersama, Apakah Ini Sinyal 2024?

Selain kekayaan alam, kekayaan tradisi bisa menjadi salah satu perekat dan penunjang pembangunan daerah.

Salah satu pejuang tradisi peresean asal Lombok Timur Bapak Jen Adi luhung berharap kedepannya pemimpin Lombok Timur tidak hanya memikirkan pembangunan secara fisik saja.

Menjaga tradisi leluhur dengan cara merawat, melestarikan dan menjadikan budaya sebagai pondasi pembangunan di daerah.

Pemimpin kedepannya harus peduli terhadap budaya, tidak hanya pada tradisi peresean, namun kepada budaya yang lainnya.

Kepedulian itu pun tidak hanya dalam kata-kata kosong semata. Ini harus dibuktikan kepada kebijakan yang dihasilkan.

Melihat beberapa tokoh yang mau maju di Lombok Timur pada perhelatan pilkada 2024 yang akan datang ada beberapa tokoh yang kami lihat dilapangans angat peduli kepada budaya peresean yaitu bapak Tanwil Anhar.

Kami melihat beliau ini sangat cocok kedepannya memimpin Lombok Timur. Tidak hanya merakyat, beliau juga langsung terjun mengikuti kegiatan kagiatan budaya yang diadakan.

“Bahkan dikalangan pepadu peresean beliau dibilang sebagai raja sawer,” ungkap Jen Adi Luhung.

Kami berharap bapak Tanwir mau maju sebagai Bupati Lombok Timur pada perhelatan Pilkada 2024 yang akan datang.

Jika beliau maju, maka kami dari persatuan komunitas budaya peresean siap mendukung beliau.

“Kami dari komunitas peresean siap mendukung Bapak Tanwir jika maju sebagai calon bupati Lombok Timur 2024,” ungkap Jen Adi luhung.

Persoalan-persoalan sosial dan budaya seperti perilaku masyarakat (human behaviour) yang tidak kalah penting untuk mendukung kualitas pembangunan di sebuah daerah.

Faktor sosial budaya sering kali terlupakan untuk turut dikemas sebagai paket utuh dari sebuah pembangunan.

Padahal budaya seringkali memengaruhi bagaimana perilaku masyarakat di dalam gaya hidupnya, misalnya untuk kehidupan sosial maupun berekonomi.

Korelasi antara sosial budaya dan kualitas pembangunan memang terkadang sulit dideskripsikan melalui pendekatan statistik.

Pasalnya produk budaya cenderung lebih dekat sebagai data kualitatif (non-numerik), sedangkan indikator kualitas pembangunan “dipaksa” untuk serba-terukur (numerik).

Peneliti dari Lombok Research Center (LRC) Maharani mengungkapkan bahwa pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat lokal sebagai penerima manfaat dan tidak menjadikan tradisi lokal sebagai pondasi pembangunan biasanya hanya bertahan sebentar dan tidak akan berkelanjutan.

“Jika menginginkan daerah tersebut maju, maka masyarakat setempat harus dilibatkan tidak hanya itu, tradisi local daerah setempat juga harus dijadikan sebuah pondasi dalam merumuskan dan melakukan peroses pembangunan tersebut, karena nantinya masyarakat setempatlah yang manjadi penerima manfaat dan menjaga serta merawat apa yang telah dibangun,” ungkap Maharani.

Beberapa antropolog mendefinisikan budaya sebagai paket pengetahuan, kepercayaan, seni, norma/moral, pengalaman, dan kebiasaan yang bersifat turun-temurun dalam suatu organisasi/komunitas masyarakat.

Belum ada tanda-tanda bagaimana produk budaya bisa kita olah sebagai potensi pembangunan.

Akan tetapi jika terjemahan budaya kita daur ulang sebagai cara/perilaku individu untuk merefleksikan ide abstrak, tentang tata cara mengisi konsep-konsep kehidupannya, dari situlah kita berkesempatan untuk memandu agar produk budaya bisa mendukung peningkatan kualitas pembangunan.

Budaya bisa menjadi jembatan untuk menginfiltrasi kebiasaan-kebiasaan baru yang tujuannya adalah membangun karakteristik masyarakat setempat yang lebih ekonomis dan tidak resisten terhadap dinamika zaman.

Berdasarkan karakteristik daerah yang IPM-nya relatif rendah tadi, kebanyakan aktivitas ekonominya masih dikelola secara tradisional sehingga butuh dukungan untuk meningkatkan nilai tambah ekonominya.

“Semoga kedepannya Lombok Timur dipimpin oleh orang yang tepat, tidak hanya cerdas namun mampu mengintegrasikan budaya local dan potensi lokal dalam pembangunan Lombok Timur. Tetap demi kesejahteraan masyarakat Lombok Timur,” ungkap Maharani.