22.8 C
Lombok

Puasa dan Seni Hidup dalam Perbedaan

Published:

Oleh: H. Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos. – Alumni Sosiologi Universitas Mataram

Setiap kali Ramadhan mengetuk pintu waktu, masyarakat kita hampir selalu disambut oleh satu peristiwa yang berulang: perbedaan dalam penentuan awal puasa. Ia hadir di layar televisi, memenuhi linimasa media sosial, hingga menjadi percakapan hangat di serambi masjid, warung kopi, dan ruang keluarga. Fenomena ini bukan sesuatu yang baru, namun selalu terasa aktual-seolah Ramadhan memang datang bersama dinamika perbedaan itu sendiri.

Perbedaan tersebut tak pernah benar-benar selesai. Tahun berganti, pola yang sama kembali hadir. Ada yang memulai puasa lebih awal, ada yang menunggu keputusan otoritas yang diyakini. Masyarakat kembali dihadapkan pada pilihan yang secara praktik tampak sederhana, namun secara sosial cukup kompleks. Dari sini, perbedaan awal Ramadhan menjelma bukan lagi sekadar persoalan kalender, melainkan cermin cara kita memahami agama dan mengelola kebersamaan.

- Your ad here -

Padahal Al-Qur’an sejak awal telah mengajarkan bahwa perbedaan adalah bagian dari sunatullah: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirajut dalam saling mengenal dan saling memahami.

Secara sosiologis, perbedaan adalah keniscayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak ada komunitas yang berdiri di atas satu tafsir tunggal. Latar belakang pendidikan, tradisi keagamaan, pengalaman hidup, serta otoritas yang dipercaya membentuk sudut pandang yang beragam. Ketika agama hadir di ruang publik, ia tidak tampil sebagai suara tunggal yang seragam, melainkan sebagai harmoni tafsir yang hidup dan berdampingan.

Masalahnya bukan pada perbedaannya, melainkan pada cara kita menyikapinya. Setiap menjelang Ramadhan, perbedaan kerap diiringi nada saling mengklaim kebenaran. Ada kecenderungan merasa paling tepat, paling ilmiah, atau paling sesuai sunnah. Di titik inilah perbedaan berpotensi berubah dari ruang dialog menjadi arena pembenaran diri.

Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelembutan inilah yang sering hilang ketika perbedaan hadir. Konflik pun tidak selalu muncul dalam bentuk pertengkaran terbuka. Ia sering menjelma dalam bahasa yang tajam, sindiran halus, atau sikap merendahkan. Ketika satu pandangan dianggap paling sah sementara yang lain diposisikan keliru, yang lahir bukan sekadar beda pendapat, melainkan relasi kuasa, siapa merasa berhak menentukan kebenaran, dan siapa harus mengikuti.

Sejarah Islam justru memperlihatkan bahwa perbedaan adalah bagian dari tradisi keilmuan. Para ulama berbeda pandangan dalam banyak persoalan, termasuk penentuan waktu ibadah. Namun perbedaan itu tidak membuat mereka saling meniadakan. Yang dijaga adalah adab, bukan dominasi; etika, bukan superioritas.

Dalam konteks ini, Ramadhan seharusnya menjadi madrasah kebatinan. Puasa bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan mengendalikan ego. Menahan diri dari merasa paling benar adalah bagian dari laku spiritual yang sering luput disadari.

Allah berfirman tentang tujuan puasa: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa di sini bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam sikap sosial: rendah hati, menghormati perbedaan, dan menjaga persaudaraan.

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak pula merendahkannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa perbedaan awal puasa tidak boleh menggerus ukhuwah. Puasa yang sejati justru melahirkan empati, bukan jarak sosial.

Di era media sosial, perbedaan sering direduksi menjadi logika menang dan kalah. Siapa lebih dulu berpuasa dianggap lebih benar, sementara yang berbeda dicap keliru. Padahal ilmu sendiri mengenal keterbatasan: metode bisa berbeda, data bisa ditafsirkan beragam, dan kesimpulan tidak selalu tunggal.

Yang lebih mengkhawatirkan, perdebatan ini kadang mengaburkan makna Ramadhan itu sendiri. Puasa yang seharusnya menumbuhkan kasih justru memicu polarisasi. Padahal esensi Ramadan tidak terletak pada keseragaman hari memulai, melainkan pada kedalaman kesadaran selama menjalaninya.

Dalam masyarakat yang majemuk, kedewasaan beragama justru diuji ketika kita berhadapan dengan perbedaan. Mampukah kita tetap teguh pada keyakinan tanpa merendahkan keyakinan orang lain? Mampukah kita berbeda tanpa kehilangan rasa hormat? Di sanalah puasa menemukan makna sosialnya yang paling dalam.

Ramadhan datang setiap tahun membawa pesan yang sama, tetapi kita sering terjebak dalam perdebatan yang berulang. Barangkali sudah saatnya perbedaan awal puasa dibaca bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat, bahwa iman tidak selalu berjalan dalam jalur yang seragam, dan kebersamaan tidak menuntut kesamaan mutlak.

Puasa, pada akhirnya, adalah seni hidup. Seni menahan diri, seni memahami perbedaan, dan seni merawat kebersamaan dalam keberagaman. Jika Ramadan mampu mengajarkan kita semua itu, maka perbedaan tidak lagi menjadi sumber kegaduhan, melainkan jalan menuju kedewasaan rohani dan sosial bersama.

Redaksi Barbareto
Redaksi Barbaretohttps://barbareto.com
Redaksi Barbareto merupakan tim jurnalis yang bertugas melakukan peliputan, penulisan, dan penyuntingan berita dengan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan Pedoman Media Siber. Setiap konten yang diterbitkan melalui proses verifikasi dan tanggung jawab redaksional.

Related articles

Recent articles