Jakarta – Aktivis demokrasi menyongsong bulan suci Ramadhan? Kenapa tidak? Bulan Ramadhan yang penuh ampunan dan berkah, merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk kembali ke dunia rohani demi membebaskan diri dari kuasa jasmani.
Pemaknaan spiritual itu juga dilakukan para aktivis yang bergabung dalam INDEMO (Indonesian Democracy Monitor) pimpinan tokoh Malari Hariman Siregar. Mereka menggelar acara bertajuk “Menyambut Ramadhan” yang berlangsung di Pantai Ancol Jakarta, awal pekan ini.
Suasana berlangsung santai. Akrab. Cair. Penuh gembira dan kebahagiaan. Selain makan bersama, dengan menu yang dahsyat seafood dan lainnya, acara ini juga diisi dengan obrolan ngalor-ngidul disertai canda dan tawa. Apapun acara INDEMO, setiap ada Bang Hariman, selalu seru. Meriah dan menyenangkan juga bikin kenyang.
Mereka yang datang cukup banyak, dari berbagai kalangan dan profesi. Sebut saja misalnya Bang Bursah Zarnubi, Bupati Kabupaten Lahat Sumatera Selatan dan Ketua Apkasi dan Bung Iwan Sumule (Wakil Ketua BP TASKIN dan Ketua Pro-Dem).
Juga hadir beberapa kawan INDEMO yang jadi komisaris seperti Wenri, Amang Toha dan Andrew. Lalu, Bung Dr. Herdi Sahrasad dan Bung Herman, pebulu tangkis era 1970-an yang pernah mengalahkan Lius Pongoh.
Bung Zainal anak muda kreatif dan produktif, kesayangan bang Hariman Siregar. Hadir mengonsultasikan buku yang akan terbit. Buku ke 4 yang ditulis itu, dinanti terbitnya oleh kawan-kawan INDEMO.
Selain mereka juga datang para aktivis gerakan perempuan, tokoh aktivis PIJAR Bung Toni dan Syafiq tokoh dari Mataram. Tak ketinggalan Mas Indro dan mbak Indah, Desiana, Bung Lukman, Acik, Nia dan Mbak Dodo.Arief Rahman yang rajin datang di INDEMO serta dr. Paulus Januar, tokoh PMKRI.
Ada pula wartawan senior Despen Ompusunggu, Pak Wiwoho, Adnan Balfas, pengacara dan Santoso alias Dos Santos yang konsisten jadi demonstran sampai tua. BenYono, Bunayya, wartawan senior yang ceria. Acara yang juga diikuti para peserta webinar INDEMO ini dikoordinir oleh Swari Utami Dewi.
Tanpa Agenda Politik
INDEMO selama ini memang identik dengan kegiatan politik, yaitu memproduksi ide-ide dan nilai-nilai alternatif untuk memperkuat demokrasi dan mendorong perubahan menuju tata kelola kekuasaan yang lebih baik, adil, dan bermartabat.
Namun, untuk kegiatan kali ini, tidak ada agenda politik, kecuali silaturahmi dan menikmati kebahagiaan bersama serta mempererat persaudaraan. Pertemuan itu sekaligus dijadikan acara menyambut Ramadhan. Hal itu dikatakan Lurah INDEMO Bang Hariman.
“Menjelang Ramadhan, kita ini pusing juga memikirkan Tunjangan Hari Raya,” ujar Bang Hariman yang direspons dengan senyuman oleh Bung Iwan Sumule.
“Sama Bang…Aku juga pusing didera persoalan THR…,” tukas Bung Iwan.
Para hadirin tertawa. Sementara itu, Bang Bursah Zarnubi mengatakan, “Kalau mau buka puasa bersama sekaligus merayakan Lebaran di rumahku, ayo…Tapi di Lahat…Jauh nian… Kalau temen-temen oke, bisa kita agendakan…”. Para hadirin kembali tertawa.
Orientasi Nilai
Meriahnya acara ini tidak lepas dari sosok Bang Hariman. Para aktivis demokrasi angkatan tahun 1980-1990-an sampai tahun 2000-an, selalu menjadikan Bang Hariman sebagai panutan atau orientasi nilai dalam politik, sosial dan budaya. Itu terjadi tanpa menciptakan relasi bercorak patronase atau feodalisme. Tetap egaliter dan demokratis.
Selain itu, Bang Hariman juga dijadikan “kompas moral” bagi aktivis-aktivis muda. Keteguhan Bang Hariman menggenggam komitmen untuk membangun dan memperkuat demokrasi sudah berlangsung 26 tahun, sejak INDEMO berdiri. Ini di luar keterlibatan Bang Hariman dalam Malari 1974.
Anak-anak muda, calon pemimpin bangsa dan para aktivis yang lebih senior, selalu setia mengikuti jejak nilai-nilai Bang Hariman. Bang Hariman, selain tokoh politik, juga menjadi solidarity maker bagi aktivis demokrasi di Indonesia.
Dinarasikan oleh ISTI NUGROHO


