Keunikan Lawar Don Jepun di Desa Adat Dukuh Penaban

Keunikan Lawar Don Jepun di Desa Adat Dukuh Penaban

BARBARETO.com | Ada beberapa keunikan masyarakat yang ada di Indonesia khususnya di daerah Bali. Uniknya di pulau Bali sangat memiliki berbagai tradisi sehingga menjadi daerah terunik di Indonesia.

Mengenal lebih jauh khusus daerah Bali yaitu Kabupaten Karangasem yang memiliki ciri khusus kuliner ngelawar/membuat lawar, mengenal lawar biasanya berbahan dasar daging babi, namun kali ini khusus di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem terdapat makanan unik yakni Lawar berbahan dasar daun Kamboja.

Olahan lawar don Jepun/daun Kamboja merupakan olahan wajib yang dibuat warga Desa Adat Dukuh Penaban. Dimana tradisi rutin ini disebut Tradisi Nyaud Lawar Don Jepun.

Olahan lawar daun Kamboja biasanya di buat setiap penampahan Galungan, penampahan Kuningan, serta piodalan di Pura Puseh yang bertepatan pada Purnama Kapat, Purnama Kapitu, Tilem Kesanga dan Purnama Kedasa.

Baca juga: Sambung Rasa Dengan Lawar, Kekeluargaan Saat Galungan dan Kuningan

I Nengah Suarya selaku Bendesa Desa Adat Penaban menjelaskan bahwa sejarah tradisi Nyaud berawal sejak pembangunan Pura Puseh Desa Adat Dukuh Penaban yakni sejak ratusan tahun yang lalu.

“Diceritakan Sejak membangun Pura Puseh Desa Adat Dukuh Penaban membutuhkan waktu yang cukup lama, hal ini disebabkan karena pada masa itu hanya menggunakan alat seadanya sehingga para warga dulu waktu itu melewati berbagai situasi musim baik kemarau dan hujan. Dimana waktu membangun Pura Puseh, warga harus membawa bekal sendiri, dimana waktu musim kemarau, sayuran sangat sulit tumbuh, hanya pohon Kambojalah yang memiliki daun yang sangat subur. Sehingga karena hanya pohon Kamboja yang memiliki daun subur maka timbullah inisiatif warga untuk membuat lawar dengan menggunakan daun Kamboja,” terangnya, Kamis (4/8/22).

Tradisi nyaud lawar don jepun, hal ini memang ditemukan dalam salah satu lontar yang disimpan oleh warga dimana tradisi ini berkenaan dengan pendirian pura Puseh di Desa Adat Dukuh Penaban yang saat itu sekitar 286 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1736.

Seiring waktu berlalu tradisi ini secara turun temurun diturunkan dan diteruskan oleh warga Desa Adat Dukuh Penaban.

Yang kini menjadi salah satu Kuliner Unik khas Desa Adat Dukuh Penaban, dan bisa ditemui di Museum Lontar Dukuh Penaban. (tra)