22.8 C
Lombok

Peristiwa Malari 1974: Gerakan Anti Penjajah

Published:

- Advertisement -

Penulis: Moh. Syafiq Khan – Aktivis INDEMO (Indonesian Democracy Monitor), dan Ketua Presidium Forum Alumni Universitas Mataram/FAUM Indonesia.

Penjajahan harus di hapuskan dari muka bumi karena tidak sesuai dengan Peri Kemanusiaan dan Peri Keadilan. Tetapi kalimat tersebut memakan dirinya sendiri. Orde Baru (Orba) tidak bergeming. Maka peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974 jawabannya.

Demo pemuda mahasiswa anti modal asing saat Perdana Menteri (PM) Jepang, Tanaka tiba di Jakarta. Demo menentang Rezim Soeharto yang lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang menguntungkan segelintir elite dari pada pemerataan keadilan sosial rakyat Indonesia.

Peristiwa malari 1974 dimotori aktivis demokrasi, seperti Hariman Siregar, Gurmilang Kartasasmita, Judilherry justam, alamarhum Salim Hutajulu, dan banyak lagi lainnya mempunyai fokus isu yang jelas, yaitu Anti Penjajahan. Gerakan ini pada akhirnya berdampak luas, menimbulkan korban harta dan jiwa serta berakhir dengan dipenjarakannya para aktivis.

Gerakan anti penjajahan mahasiswa/pemuda di negeri ini setidaknya sudah mengakar sejak zaman penjajahan Belanda, mulai Gerakan Kebangkitan Nasional Boedi Oetomo 1908 dan Sumpah Pemuda 1928, sampai terjadi nya Revolusi Pemuda 1944-1946 (Ben Anderson).

Meskipun sebelumnya juga banyak gerakan melawan penjajah, seperti Fatahillah (1448-1570) yang mengusir portugis dari sunda kelapa Jakarta 1527, Sultan Agung (1593-1645), Perang Diponegoro 1825-1830, Perang Padri 1803-1838, Perang Atjeh 1873-1904, dan banyak lagi perang/gerakan anti penjajahan lainnya.

Pasca revolusi kemerdekaan 1945, isu Gerakan anti penjajahan baru muncul kembali saat Peristiwa Malari 1974. Setelah Malari, berlangsung aksi seperti Gerakan Mahasiswa 1978 dengan isu Anti Rezim Soeharto/Anti Militerisme yang melahirkan tokoh Sukmadji Indro Tjahyono dengan perlawanannya “Indonesia di bawah Sepatu Lars”, alamarhum Rizal Ramli, Heri Akhmadi dan lainnya.

Selanjutnya Gerakan Mahasiswa 80-an hingga 90-an yang melahirkan Reformasi. Gerakan Reformasi 98, adalah berbeda dengan peristiwa Malari 1974. Meskipun gerakan reformasi 1998 juga memakan korban mahasiswa, pemuda dan akhirnya dengan berbagai tekanan rezim Orba jatuh dengan mundurnya Soeharto, namun gerakan tersebut tidak memunculkan isu anti penjajahan dan tidak menimbulkan efek malapetaka laksana peristiwa Malari 1974.

Gerakan reformasi 98 lebih fokus untuk menuntut rezim Soeharto mundur. Begitu juga sebelumnya di jaman Orde Lama (Orla), rezim Soekarno di jatuhkan bukan hanya dengan demo angkatan 66, tetapi merupakan konspirasi banyak pihak, mulai dari sipil, tentara, Jenderal Soeharto dan asing. Meski korban harta dan jiwa rakyat tak berdosa lebih lebih banyak dari Malari, tetapi isu nya fokus Gerakan Anti Komunis (PKI, red) dan menggulingkan rezim Soekarno.

Baca Juga :  Prakarsa Lotim Apresiasi TNI dan Polri

Kemudian juga aksi di tahun 2000-an, termasuk aksi 212 tahun 2016 yg melibatkan “jutaan” rakyat berlangsung damai dan hanya fokus untuk menghukum seorang penista agama, meski diduga gerakan tersebut untuk menggulingkan Presiden Jokowi.

Dan, walaupun saat ini dominasi asing makin bercokol, tetapi aksi 212 maupun reuni 212, berbeda isu dan dampak, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan peristiwa Malari 1974. Bahwa memang tidak menutup kemungkinan gerakan 212 menjadi gerakan fenomenal apabila para tokoh gerakannya seperti Habib Rizieq, KH. Bachtiar Nasir, AA. Gym dan lainnya, saat itu “menggelorakan hasrat yang lebih besar” menuju isu Gerakan Anti Penjajahan/Gerakan Anti Neo Imperialisme/Anti Neo Kolonialisme. Namun apapun itu gerakan 212 tersebut telah berhasil membangkitkan solidaritas ummat Islam yang luar biasa, dan tentu saja takdir gerakan nya telah berkata lain.

Hakekat peristiwa Malari 1974 adalah Gerakan Anti Penjajahan. Saat orde baru dominasi ekonomi politik asing makin menguat terutama Jepang dan Kapitalis Barat. Dominasi Kapital Asing adalah Penjajahan dalam bentuk baru yang ternyata berdampak lebih kompleks runyam bagi kesengsaraan nasib Rakyat Indonesia. Saat ini setelah Orde Reformasi negeri kita ternyata semakin di cengkeram oleh Dosa Kapital. Perusahaan Asing baik Jepang, China, Eropa, Amerika Zionis dan banyak lagi lainnya makin merajalela menguasai aset hajat hidup orang banyak mulai dari hulu sampai ke hilir.

Mulai Multi National Corporation (MNC) yang besar, sedang, sampai kecil. Mulai bisnis tambang minyak, emas, mobil, air, online, satelit informasi, kontraktor, rumah sakit, pharmasi, dokter, lawyer, sampai ke dagangan rakyat kecil. Misal nya saja seperti Freeport, Exxon, Fox, CNN,Toyota, Mitsubishi, Sony, Samsung, Xiomi, Vivo, Wuling, Alibaba, google, Ford, BMW, de beers, microsoft, Aqua, McD, Starbuck, KFC, Uber Grab, laundry 5 asec, carefour, sampai ke retail macam Circle K, dan banyak macam lainnya.

Kemudian warisan Utang negara kita lebih dari Rp. 9000 Triliun pada era kekuasaan Jokowi dan pada masa pemerintahan Prabowo Subianto menuju lebih 9600 T pada awal 2026. Dan akan terus bertambah, karena kita berhutang lagi hanya untuk membayar Bunga Utang yg itu pun makin membengkak bahkan bisa tidak terbayar. Belum lagi tekanan tinggi nya nilai kurs dollar dan suku bunga dunia. Problematikanya juga adalah Utang yang selalu digunakan sebagai Rente Korupsi.

Utang inilah senjata para pemilik Kapital yang sengaja terus di jejalkan agar bisa menjadi rentenir bagi negeri kita. Kapital ini pemiliknya mayoritas kaum “kapitalis barat-yahudi zionis”, seperti The FED, IMF, ADB, World Bank, dan banyak lembaga keuangan termasuk “kapitalis timur” yang didominasi OBOR China dan Jepang.

Baca Juga :  Indeks Pembangunan Manusia dan Pengangguran di Lombok Timur

Bahkan lembaga PBB pun notabene dalam cengkeraman oligarki para bankir vampir penghisap darah anti kemanusiaan. Homo homini lupus, segelintir manusia borjuis yang menjadi srigala bagi manusia manusia proletar tertindas. Merekalah sejati nya Penjajah Dunia yang tidak berperikemanusiaan. Kapital tidak lain adalah imperialis gaya baru yang lebih kejam.

Bahkan munculnya Populisme di dunia saat kemenangan Donald Trump di Amerika serikat tidak luput dari Capital Effect yang notabene adalah konspirasi para pemilik modal dalam menciptakan dasamuka kapital berupa wajah baru penjajahan dengan teknik rasa rupa berbeda namun tetap satu tujuan yaitu Kapital.

Dan dengan Demokrasi Kapital Amoral maka Tatanan Dunia Baru akan berada dibawah Kekuasaan Penjajah yang lebih keji dari penjajah manapun yang pernah ada di muka bumi ini. Jika dianggap munculnya Populisme merupakan Antitesa dari Kapitalisme Global maka Sintesa nya adalah Imperialis Zionis Devilis. Terbukti saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump memporakporandakan tatanan dunia dengan menjadikan Yerussalem sebagai Ibukota “Imperialis Zionis Izrahell Devilis”.

Tatanan yang bermula dari Penghapusan Palestina – Al Quds. Tatanan Imperialis Kolonialis mendunia yang menancapkan kekejaman zaman. Sebuah Tatanan baru New World Order yang melampaui batas batas Perikemanusiaan dan Perikeadilan. Sebuah tatanan ultra ekstrem yg sangat mengerikan. Sebuah tatanan yg melampaui ramalan Zaman Edan nya Ronggowarsito. Sebuah Perang dashyat. Perang Kapital menuju Tatanan Penjajahan Zaman Anti Kemanusiaan. Dari sinilah munculnya konflik dunia dan dari sini pulalah akan muncul perdamaian dunia.

Lalu bagaimanakah bentuk Gerakan Perlawanan Anti Penjajahan kita saat ini. Setidak nya gerakan “kata-kata Kebenaran” adalah bentuk perlawanan kita dalam menentang segala bentuk penjajahan. Kebenaran akan meruntuhkan sistem Demokrasi Kapital Amoral menuju Sistem Demokrasi yang Beradab dan berkeadilan sosial. Dan dari gerakan kata-kata Kebenaran dan Kebaikan dengan nurani yang tulus inilah nantinya akan menuju Revolusi Gerakan Anti Penjajahan mengembalikan Era Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Akhirnya, hanya Tuhan Maha Kuasa yang dapat mengalahkan jiwa-jiwa iblis. Hanya Yang Kuasa sebagai pemberi petunjuk bagi para insan dalam rangka Perdamaian Alam Semesta. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin. Jakarta, 15 Januari 2017. (Disunting: 15 Januari 2026)

- Advertisement -
Redaksi Barbareto
Redaksi Barbaretohttps://barbareto.com
Admin Barbareto - Portal Berita Informatif Menginspirasi

Related articles

Recent articles