Sabtu, April 13, 2024

Rabies Mengintai, Dinas Peternakan Gencarkan Edukasi

Selong, barbareto.com – Kabupaten Lombok Timur hingga saat ini masih di kategorikan daerah “aman” dari penularan rabies meski di apit oleh dua pulau yang saat ini telah di jangkiti penyakit rabies atau yang di kenal dengan istilah penyakit anjing gila tersebut, yakni Bali dan Sumbawa.

Melihat kondisi itu, Kepala Bidang Keswan dan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur, drh. Hultatang mengatakan Lombok Timur tidak akan terlepas dari kabupaten lain.

“Kita misalnya (Lombok Timur) sudah berusaha membentengi diri kita dengan segala upaya dan pengawasan kita, tetapi ada Kabupaten tetangga kita yang longgar pengawasannya, maka potensi penyebaran rabies masih ada,” kata Hultatang, Kamis (10/8/2023).

Tak hanya kabupaten tetangga saja, ia juga memberikan perhatian lebih terhadap pulau tetangga seperti pulau Bali, Sumbawa dan NTT.

Ia berharap agar lalu lintas keluar masuk hewan ternak dari tiga pulau itu lebih di perkuat, terutama hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.

Penyakit Menular Hewan

Di jelaskan Hultatang, penyakit hewan menular strategis di bagi menjadi dua, yakni zoonosis dan non zoonosis.

Zoonosis adalah penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

Sedangkan non zoonosis penyakit yang hanya menular dari hewan ke hewan lainnya.

“Untuk zoonosis rabies, dan untuk PMK non zoonosis,” sebutnya.

Untuk mengatasi itu semua, lanjut dia, maka lalu lintas hewan ternak antar kabupaten dan antar pulau harus di perkuat.

Hal itu, tandas dia, menjadi kunci utama dalam upaya membebaskan Lombok Timur dari ancaman penularan penyakit hewan menular strategis tersebut.

Kaitannya dengan itu, maka menjadi penting untuk dilakukan check point di setiap perbatasan, baik perbatasan antar kabupaten maupun perbatasan antar pulau.

“Check point antar pulau itu di sebut dengan karantina, dan kita sudah punya itu. Cuma check point daratan, misalnya antara kabupaten Lombok Timur dengan Lombok Tengah, itu kita ndak punya,” tuturnya.

Check point antar kabupaten menjadi lebih krusial di karenakan terdapat banyak jalan tikus yang di desa-desa yang berbatasan langsung dengan kabupaten lain.

Lantaran itu, maka Pemdes harus menjadi garda terdepan untuk melakukan check point.

“Termasuk daerah-daerah pesisir yang berbatasan dengan antar pulau, juga perlu kita edukasi tentang penyakit rabies ini. Atau nanti kita akan lebih banyak turun untuk mengedukasi masyarakat,” katanya.

Hewan Penular Rabies

Di jelaskan lebih lanjut, terdapat tiga hewan yang mampu menularkan rabies yang biasa di sebut dengan HPR (Hewan Penular Rabies) yaitu anjing, kucing, dan kera.

“Nah kita banyak mendapat laporan ada kasus orang di gigit anjing. Setelah kita turun ke lapangan, dan hasil wawancara kita dengan yang di gigit, hasilnya tidak ada indikasi rabies,” yakinnya.

“Dari beberapa kasus yang kita tangani, untuk sementara kita simpulkan anjing galak. Misalnya, ada anak-anak main layangan tapi ada anjing sedang bunting atau baru melahirkan merasa daerah teritorialnya terganggu, maka dia akan menggigit,” terangnya.

Masih kata dia, salah satu tanda yang paling umum pada anjing yang terkena rabies adalah ketika ia mengeluarkan air liur dalam jumlah banyak.

Selain itu, anjing yang terkena rabies juga menjadi lebih agresif.

Saat terkena rabies, anjing akan menjadi lebih galak dan buas terhadap orang maupun hewan lain, bahkan pada orang yang sudah di kenalnya.

“Jadi, ciri-ciri anjing rabies itu sebenarnya, galaknya itu di atas rata-rata. Artinya dia akan menggigit apapun yang dia temui. Kemudian dia akan mengalami hipersanipasi,” terangnya lagi.

Fase Rabies

Di uraikannya, anjing yang terkena rabies akan mengalami tiga fase.

Yang pertama adalah fase phobia, di mana anjing akan mengalami rasa takut terhadap cahaya, air, dan udara.

Kedua fase ekstasif, di fase inilah anjing akan menggigit setiap yang di jumpainya, berlangsung selama dua minggu.

“Yang ketiga adalah fase paralisa, setelah dua minggu dia akan mengalami kematian,” tukasnya.

Pada kesempatan yang sama, Hultatang menegaskan bahwa penyakit rabies merupakan virus penyakit yang sangat berbahaya yang dapat menyerang otak dan sistem saraf, yang hingga saat ini belum ada obatnya.

Karena itu, ia menyarankan bagi masyarakat yang terkena gigitan anjing agar segera di bawa ke rumah sakit dan di berikan vaksin anti rabies (VAR).

“Kalo tidak segera di vaksin kecil kemungkinan bisa selamat. Karna rabies itu belum ada obatnya, hanya bisa mencegah dia dengan di vaksinasi. Jadi, anti body khusus untuk rabies yang ada di dalam tubuh manusia itu, begitu masuk virusnya bisa di tangkal,” paparnya.

Selain itu, ia juga mengharapkan kepada semua pihak untuk menggencarkan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), di karenakan Provinsi NTB sudah berstatus KLB (kejadian luar biasa) setelah adanya kasus rabies di kepulauan Sumbawa.

“KIE ini semua kita harus mengambil tanggungjawab. Di desa harus bertanggungjawab, ibu-ibu PKK-nya, Puskesmas, Puskeswan-nya juga bertanggungjawab. Sehingga rabies ini bisa kita tangkal untuk masuk di Lombok Timur,” demikian Hultatang.

Follow kami di Google News

Baca juga :
RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments