Poltrada Bali Dipercaya Jadi Tuan Rumah Simposium FSTPT 2022

0
Poltrada Bali
Simposium Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT) ke-25 tahun 2022 digelar di Politeknik Transportasi Darat (Poltrada) Bali sebagai tuan rumah, Sabtu (25/11/2022). (Foto: doc. Poltrada Bali)

BARBARETO.com – Gianyar. Simposium Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT) ke-25 tahun 2022 digelar di Politeknik Transportasi Darat (Poltrada) Bali sebagai tuan rumah, Sabtu (25/11/2022).

Kegiatan tahunan ini diadakan secara bergantian di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Simposium FSTPT XXV ini menjadi platform yang sangat baik bagi para peneliti, praktisi, pejabat publik, dan mahasiswa, dan stakeholder dari Indonesia dan luar negeri untuk bertukar pikiran kajian, pandangan, ide dan pengalaman terkini dalam pengembangan sektor transportasi,” ujar Direktur Poltrada Bali, Dr Ir Efendhi Prih Raharjo, ST, S.SiT, MT.

Simposium tahun ini difokuskan pada tema utama yaitu “Penguatan Konektivitas dan Integrasi Transportasi untuk Pemulihan Peningkatan Pariwisata dan Ekonomi Nasional”.

Efendhi Prih Raharjo menerangkan bahwa telah menerima lebih dari 275 paper yang berkaitan dengan transportasi yang terbagi dalam 16 kategori, di antaranya Sistem Transportasi Cerdas (ITS), Interaksi Tata Guna Lahan dan Transportasi, Ketahanan dan Transportasi Berkelanjutan.

Kemudian Dampak Sosial dan Lingkungan, Keselamatan, Keamanan, dan Adaptasi Perubahan Iklim Transportasi, Analisis Desain dan Struktur untuk Infrastruktur Transportasi, Rekayasa dan Manajemen Lalu Lintas, Transportasi Umum, Ekonomi dan Keuangan Transportasi, Pengangkutan dan Logistik.

Ada pula Kebijakan, Regulasi, dan Manajemen Transportasi, Geoteknik Transportasi dan Teknologi Perkerasan, Transportasi Perairan Laut dan Darat, Infrastruktur dan Manajemen Transportasi, Transportasi Kereta Api, dan Transportasi Udara dan Penerbangan.

“Selanjutnya dilakukan proses review yang ketat dan akan dipresentasikan oleh peserta yang terbagi menjadi 18 ruang kelas presentasi,” jelasnya.

Adapun pembicara utama dan para pakar transportasi yang hadir dalam simposium ini, yaitu Menteri Perhubungan Republik Indonesia Dr (HC) Ir Budi Karya Sumadi, Prof Dr Eng. Ir Muhammad Isran Raml, ST, MT, selaku Ketua FSTPT;

Prof Mohammed Ali Berawi, M.Eng.Sc, Ph.D, selaku Ketua Bidang Koordinasi Transformasi Teknologi dan Inovasi Tim Transisi Otorita Ibu Kota, William P. Sabandar, MSE, Ph.D, selaku President Intelligent Transport System ITS Indonesia.

Prof Dr Ir Agus Taufik Mulyono, MT, IPU. ASEAN.Eng, selaku Ketua Majelis Profesi dan Etik MTI/Tenaga Ahli Utama Pustral UGM, Anton Marthalius, Executive General Manager Airport Operation Divisiondan, serta Dr Siti Maimunah, SSi, MSE, MA, selaku Kepala Bidang Pendidikan Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Darat.

Dalam rangkain kegiatan simposium kali ini, Poltrada Bali juga menggelar Pameran Motor Listrik (Exhibition Poltrada Bali) dengan tema “Masa Depan Transportasi Indonesia”.

Pameran tersebut bekerja sama dengan berbagai Perusahaan Motor Listrik dan Bengkel Motor Konversi yang ada di Indonesia, seperti: United E Motor Bali, Gesits, Bengkel E-bike, Kucher Eco Indonesia, CSBI Bali, Volta oto bali, Selis, Volto mechanix/PT Percik, GWM tech dan Electric wheel.

Tak hanya itu, turut juga dipamerkan hasil karya rancangan motor listrik yang dibuat oleh dosen dan taruna/i Poltrada Bali.

Ketua Majelis Profesi dan Etik MTI /Tenaga Ahli Utama Pustral UGM Prof Agus Taufik Mulyono menerangkan, FSTPT merupakan forum persahabatan yang tidak dibentuk oleh kekuasaan atau oleh pemerintah, melainkan lahir dari kesadaran.

“Forum ini dibentuk pada tahun 1998 yang digagas oleh ITB bersama perguruan tinggi lain, untuk menyatukan atau mengumpulkan para dosen yang mengajar transportasi dan sebagainya,” ujarnya.

Dijelaskan, tujuan dalam forum yang beranggotakan 153 perguruan tinggi tersebut adalah mendidik para mahasiswa agar mampu menampilkan karya-karya ilmiahnya.

Disinggung dengan adanya pro kontra terkait kebijakan konversi kendaraan BBM ke listrik oleh pemerintah, Prof Agus mengatakan bahwa setiap awal kebijakan akan menimbulkan dampak.

Namun jika nantinya biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat terlalu mahal, tidak membawa hal positif bagi publik khususnya mengenai keselamatan, hal itu menurutnya perlu dikaji ulang.

“Transport itu harusnya membahagiakan, salah satu hal yang membahagiakan adalah murah. Memang tidak mudah untuk merubah paradigma masyarakat, apalagi kendaraan tersebut merupakan simbol sosial,” tegasnya. (*/b).

Baca berita lainnya di Google News

Exit mobile version