BAPERA Kecamatan Jerowaru Beri Santunan Dari Desa ke Desa

0
234
BAPERA Kecamatan Jerowaru Beri Santunan Dari Desa ke Desa
Foto : BAPERA Kecamatan Jerowaru Beri Santunan.

barbareto.com | Momentum Ramadhan, Barisan Pemuda Nusantara (BAPERA) Kecamatan Jerowaru beri santunan dari Desa ke Desa.

Ketua BAPERA Kecamatan Jerowaru Ahmad Riadi mengatakan, Ramadhan menjadi momentum meningkatkan kesalehan ritual dan kesalehan kolektif.

Saatnya bangkit bersama dari dampak pandemi Covid-19. Puasa tidak sekadar kemampuan menahan lapar dan dahaga.

Jauh lebih penting lagi ialah puasa itu mengungkit sensitivitas pribadi terhadap kebutuhan dan permasalahan sesama manusia.

“Semangat memberi selama masa puasa ini hendaknya tetap dalam bingkai kesadaran untuk saling mencintai dan saling membantu sesama manusia, itulah yang kami lakukan di wilayah kecamatan Jerowaru, berbagai bersama anak yatim dari Desa ke Desa, Memberi tidak harus menunggu kaya,” ujarnya.

Memberi dari kekurangan justru jauh lebih mulia, apalagi, sebagai dampak pandemi Covid-19, banyak orang di sekitar kita yang menantikan uluran tangan.

“Saya sebagai ketua Barisan Pemuda Nusantara kecamatan Jerowaru merasa sangat bangga bisa ikut berbagi,” tambah Riadi.

Baca juga : Bapera Lotim Siap Bersinergi dan Berkolaborasi Dengan Pemerintah Daerah

Ketua DPD Bapera Lombok Timur Saparwadi mengatakan, wujud nyata kesalehan sosial dalam memberi ialah tetap menaruh rasa hormat kepada yang menerimanya.

Saparwadi mengajak untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas dan membersihkan residu manusiawi.

“Hanya dengan memperkuat solidaritas dan membersihkan residu selama puasa kiranya menjadi jalan untuk bisa terlahir kembali sebagai manusia baru, menjadi orang yang berkomitmen merawat harkat dan martabat kemanusiaan, menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tidak terpuji seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme,” ujar Bang Wadik sapaan akrab Ketua BAPERA Lotim.

Lanjut Bang Wadik, Memang, membersihkan residu manusiawi pada awalnya menjadi tugas setiap pribadi dengan menjalankan ritual keagamaan.

Residu yang mestinya dibersihkan ialah kesombongan, mengklaim diri sebagai pemegang monopoli kebenaran, akan tetapi, saleh personal saja belumlah cukup untuk membentuk masyarakat yang beradab, kesalehan pribadi itu hendaknya bertranformasi menjadi gerakan bersama sehingga memperkuat solidaritas sosial.