Kemana Arah Pembangunan Pertanian Lombok Timur?

Kemana Arah Pembangunan Pertanian Lombok Timur?
Kemana Arah Pembangunan Pertanian Lombok Timur?

barbareto.com | Opini – Beberapa bulan yang lalu, di laman portal media online, Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Timur (Lotim) melalui Sekretaris Daerah (Sekda) tertarik mengembangkan komoditas Porang, yang saat ini menjadi hot isuess comodities di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sekda sangat optimis menjadikan komoditi ini menjadi komoditi unggulan di Lombok Timur. Bahkan, Sekda Lotim H. M. Juaini Taofik berencana akan membangun industri olahan Porang sebagai proses hilirisasi komoditas Porang yang akan dibudidayakan di seluruh NTB.

Belum tiga bulan, dari berita yang menjadi angan-angan dan impian itu terlaksana. Hari ini, media online kembali lagi memberitakan tentang keinginan Lombok Timur untuk mengembangkan komoditi unggulan baru lagi. Komoditi itu adalah Sorgum.

Dalam laman beberapa media online, Bupati Lombok Timur secara langsung menegaskan dan memberikan arahan kepada beberapa Organisasi Perangkat daerah (OPD) terkait untuk serius mengembangkan komoditi ini.

Sorgum, kata dia, kaya protein, kalsium, zat besi, fosfor dan serat. Sorgum dinilai dapat menjadi alternatif pengganti beras memenuhi kebutuhan pangan masyarakat maupun pakan ternak. 

Bupati Sukiman meminta Dinas Ketahanan Pangan Lombok Timur mensosialisasikan Sorgum sebagai pengganti nasi. Mengingat kandungan zat gula di dalamnya cenderung lebih tinggi dan rentan risiko gula darah.

Baca juga : Bupati Lotim Ajak Masyarakat Budidaya Sorgum

Ia juga menyampaikan dua tahun mendatang pembangunan juga akan difokuskan di bidang pertanian. Dalam proses itu, pihaknya mengutamakan Sorgum sebagai produk unggulan. Tidak hanya Dinas Ketahanan Pangan, OPD lainnya juga diharapkan bersinergi menyukseskan budidaya tanaman tersebut.

Melihat dua ambisi pembangunan yang dilontarkan oleh dua orang penting di Lombok Timur ini membuat penulis menjadi bertanya-tanya. Apakah Lombok Timur tidak memiliki blue print pembangunan pertanian?. Atau OPD terkait masih belum mampu menterjemahkan keinginan dari pemimpinnya?.

Sektor pertanian bagi Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu sektor yang memiliki kontribusi penting dalam pembangunan di daerah ini. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor pertanian pada struktur perekonomian Lombok Timur masih mendominasi yaitu sebesar 27,06 persen. Namun, dalam periode tahun 2010-2019 kontribusi sektor pertanian mengalami fluktuasi bahkan cenderung menurun.

Penurunan kontribusi sektor pertanian dalam struktur PDRB Lombok Timur disebabkan karena adanya penurunan produksi yang dipengaruhi oleh semakin menyempitnya luas lahan pertanian yang produktif sebagai akibat dari alih fungsi lahan seperti konversi lahan sawah serta kegiatan intensifikasi berlebihan dan penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kemudian adanya isu global terkait dengan perubahan iklim memberikan dampak terhadap degradasi lahan. 

Sehingga, salah satu alternatif pilihan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan dan menjaga produktivitas produksi pertanian di daerah ini adalah pendayagunaan dan pengembangan lahan kering. Selain karena memang tersedia cukup luas, sebagian dari lahan kering belum diusahakan secara optimal sehingga memungkinkan peluang dalam pengembangannya.

Lahan kering mempunyai potensi yang cukup luas untuk dikembangkan di Lombok Timur. Data Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (2019) dalam data BPS Lombok Timur Dalam Angka 2020 menyebutkan dari total 160.554 hektar lahan di Lombok Timur, terdapat 47 persen atau 75.787 hektar merupakan lahan kering, 47.598 hektar (30 persen) lahan sawah, dan 37.169 hektar (23 persen) lahan bukan pertanian. Keberadaan lahan kering di Lombok Timur merata hampir di setiap Kecamatan yang ada

Selama ini pembangunan pertanian Lombok Timur terfokus pada peningkatan produksi pangan, terutama Padi dan Jagung, sehingga sebagian besar dana dan daya telah dialokasikan untuk program-program seperti intensifikasi, jaringan irigasi, dan percetakan sawah. 

Masalah lainnya yang harus dihadapi didalam pemanfaatan lahan kering ini adalah keadaan sosial ekonomi petani atau masyarakat yang menggunakan lahan kering sebagai tempat usahanya. Pendapatan keluarga yang rendah serta kemiskinan dibanyak tempat berkolerasi positif dengan uasaha tani di lahan kering. Menurut BPS dari 1,2 juta jiwa lebih penduduk Lombok Timur pada tahun 2019 masih terdapat 16,15 persen atau sebesar 193.560 ribu jiwa penduduk dalam kategori miskin.

Untuk itu, Lombok Research Center mengajak Bapak Bupati serius dalam pengembangan lahan kering kedepannya untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Keseriusan ini harus berdasarkan kepada komitmen dan dalam bentuk tindakan. Tindakan yang dimaksud adalah berbentuk langsung dalam kebijakan anggaran pada sektor pertanian. Selama kepemimpinan Bapak Sukiman Azmy, Sektor pertanian tidak pernah mendapatkan anggaran melebihi 5 persen. Padahal jika dilihat sumbangan sektor pertanian ini dalam menunjang perekonomian Lombok Timur sangat tinggi bahkan tertinggi dari sektor lainnya.

Pembangunan pertanian di Lombok Timur selama ini terkesan masih fokus pada aspek peningkatan kuantitas produksi. Sebagai contoh adalah tanaman Jagung dan Padi. Peningkatan produksi Jagung di Lombok Timur ini dapat terjadi karena Pemerintah Daerah telah menggalakkan program penanaman Jagung dalam sepuluh tahun terakhir. Dengan adanya bantuan bibit dan pupuk serta harga Jagung yang bagus membuat petani berlomba menanam Jagung. Serta jangan lupa kebijakan pemerintah melalui program cetak sawah baru juga berkontribusi terhadap peningkatan produksi Jagung di Lombok Timur.

Walaupun kuantitas produksi sebagai sesuatu yang perlu diprioritaskan dapat dipahami, pendekatan ini menutup peluang pengembangan aspek-aspek kreatif yang lebih terkait dengan sisi kualitas produk. Padahal peningkatan kualitas produk secara netto berpotensi meningkatkan nilai rupiah produk.

Berbicara mengenai komoditi unggulan, Lombok Timur saat ini menjadi basis dan penopang hasil hortikultura di NTB. Semua daerah Kabupaten/Kota yang ada di NTB sangat tergantung kepada hasil pertanian hortikultura dari Lombok Timur. Sebagai contoh, berdasarkan hasil kajian dari Lombok Research Center (LRC) kebutuhan sayur mayor dan beberapa komoditi buah yang beredar di Mataram dan Lombok Barat mencapai 60 persen. Bahkan beberapa komoditi andalan kita sudah mampu menembus ke 16 Provinsi di Indonesia. Komoditi tersebut adalah Cabai.

Komoditi Cabai di Lombok Timur sudah mampu menjadi salah satu komoditi andalan. Lombok Research Center (LRC) dalam kajiannya tahun 2020 yang lalu menghasilkan bahwa komoditi Cabai ini menjadi komoditi andalan dari sisi banyaknya petani yang terlibat. Sumbangan komoditi ini dalam perekonomian daerah, kesesuaian lahan dalam teknis budidayanya dan mampu menyumbangkan tenaga kerja yang cukup tinggi.

Baca juga : Mimpi Petani di Negara Agraris

Untuk itu penulis berharap bahwa Pemerintah Daerah jangan sampai latah dalam mengembangkan komoditi unggulan baru untuk dikembangkan di daerah. Lebih baik memaksimalkan komoditi yang ada dari sisi kebijakan yang tuntas dari hulu sampai hilir.

Kedepannya Pemerintah Daerah di Lombok Timur juga perlu melakukan inovasi dan kreasi kebijakan terkait dengan pertanian secara utuh. Dari hulu sampai hilir. Dari sisi input sampai sisi out putnya. Dan program yang dijalankan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah setempat. Ini semata mata hanya untuk kesejahtraan petani dan masyarakat Lombok Timur secara umum. Agar mimpi-mimpi petani di bumi Patuh Karya ini tercapai.

Penulis adalah Peneliti Lombok Research Center (LRC)

Open chat
%d blogger menyukai ini: