Sambung Rasa Dengan Lawar, Kekeluargaan Saat Galungan dan Kuningan

0
91
Sambung Rasa Dengan Lawar, Kekeluargaan Saat Galungan dan Kuningan
Foto: I Nengah Sumardi

BARBARETO.com | Galungan dan Kuningan juga kerap disertai dengan tradisi ngelawar. Hal ini biasa dilakukan kerama Bali untuk memeriahkan hari raya.

Ngelawar sendiri punya makna sendiri. Ada berbagai versi makna ngelawar.

Seperti apa?, Lawar merupakan bagian pelengkap hari raya Galungan dan juga Kuningan. Sekalipun hanya pelengkap tradisi ini sulit dihilangkan. Ngelawar sendiri sudah menjadi tradisi kerama Bali saat Galungan.

Ada filosopi yang terkandung pada sajian lawar. Maknanya sendiri adalah sebuah keharmonisan atau keseimbangan. Karena perpaduan yang ada pada lawar harus seimbang dan harmonis agar lezat dan enak dinikmati.

Bahan lawar yang terdiri berbagai bahan mewakili keseimbangan dan harmonisasi. Dalam lawar ada parutan kelapa berwarna putih bisa di simbulkan sebagai dewa Iswara dengan posisi di timur.

Bahan darah dengan warna merah melambangkan dewa Brahma yang bertempat di selatan. Selain itu ada juga berbagai bumbu bumbu dengan warna kuning yang melambangkan dewa Mahadewa di barat. Terasi warna hitam mewakili simbol dewa Wisnu di Utara. Keempat mata angin tersebut juga melambangkan keseimbangan.

Baca juga: Jelang Galungan dan Kuningan, Polsek Selat Menyerahkan Bantuan Sembako

Dalam lontar dharma Caruban pelaksana. Ngelawar dipimpin oleh seorang ahli. Yang bersangkutan ahli dalam mengolah bumbu dan dikenal juga dengan istilah Belawa.

Menurut pemerhati, pelaku dan juga penggemar lawar, I Nengah Sumardi, ngelawar sudah menjadi tradisi di Bali apalagi di karangasem.

Dirinya sendiri kerap ngelawar saat hari raya atau untuk menyambut tamu. Sumardi mengakui kalau keluarganya termasuk I Wayan Geredeg, mantan bupati Karangasem suka ngelawar.

Bahkan hidangan ini menjadi menu handalannya kalau ada kegiatan adat atau tradisi di keluarga besarnya.

Hebatnya lagi lawar yang dibuatnya tidak menggunakan bumbu penyedap modern. Namun tetap menggunakan penyedap tradisional racikan sendiri.

“Kalau saya di keluarga besar ngelawar tidak menggunakan penyedap seperti piksin atau penyedap ber merk,” ujarnya. Namun lebih mengedepankan menggunakan bumbu tradisional Bali.

Masyarakat Bali sendiri usai ngelawar atau mebat biasanya di akhiri dengan Megibung atau makan bersama. Tradisi ini masih lestari di karangasem dan juga Klungkung serta Bangli.

Ngelawar juga diikuti dengan berpesta dan juga bersenang senang. Mengibung sendiri adalah tradisi makan bersama. Peserta duduk melingkar. Makanan berupa nasi dan lawar serta sate ada di tengah dengan alas daun pisang atau aledan. Yakni daun kelapa atau Ron yang dianyam. (tra)