More

    Tingkat Pengangguran Terbuka di Lombok Timur Menurun Selama Tiga Tahun Terakhir

    Selong – Dinas Ketenaga Kerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lombok Timur mencatat angka pengangguran terbuka di Kabupaten Lombok Timur menurun dalam kurun waktu tiga tahun ini.

    Terhitung dari tahun 2020, angka pengangguran terbuka di Lombok Timur sebanyak 4,17 persen dari jumlah penduduk Lombok Timur.

    Sedang ditahun 2021 angka pengangguran terbuka menurun hingga mencapai 2,79, hingga tahun 2022 dari data yang ada angka pengangguran di pres kembali menjadi 1,31 persen.

    Kepala Disnakertrans Lombok Timur, M. Khairi mengatakan berdasarkan jumlah angkatak kerja tahun 2022 sebesar 633 ribu, sedang angka penganggurannya sebanyak 151.

    Adapun ditegaskan Khairi, yang mengakibatkan adanya penurunan angka pengangguran terbuka setial tahunnya di karenakan Disnakertrans selama ini mengoptimalkan anggaran baik yang berasal dari Daerah ataupun Pusat sendiri.

    “Kita selama ini peduli tentang apapun dari sumber biaya, dan salah satunya kami di Disnakertrans diberikan dana kemarin Rp1,5 miliar dari bantalan sosial dari pusat,” ucap Khairi menjawab Barbareto.com, Selasa (22/11/2023).

    Dari anggaran Rp1,5 miliar tersebut, Disnakertrans mengoptimalkannya dalam bentuk pelatihan dan juga pengadaan alat bagi masyarakat yang usai melaksanakan pelatihan.

    “Artinya selesai pelatihan kita berikan alat, seperti jika ikut pelatihan menjahit misalnya selesai latihan dikasih mesin jahit, latihan boga selesai pelatihan di berikan alat boga, pelatihan tata rias selesainya diberikan tata rias, dan lainnya,” katanya.

    Hal ini diperuntukkan agar ilmu yang ia dapatkan seusai pelatihan langsung bisa dipraktikkan hingga juga mampu membuka peluang usaha bagi diri masyarakat sendiri.

    Diyakininya, tahun 2023 ini angka pengangguran terbuka di Lombok Timur juga bisa turun mengikuti rentetan tahun tahun sebelumnya.

    Hal ini dikarenakan, tahun 2023 pihaknya juga mendapatkan tambahan dana pelatihan sejumlah Rp500 juta yang berasal dari dana DBHCHT.

    “Anggaran bantalan sosial tahun 2022 terbukti dioptimalkan dengan banyak dari peserta pelatihan tidak nganggur lagi, selesai dia praktik semisal tata boga dia bisa buat kue-kue yang beraneka ragam rasa rupa,” katanya.

    “Tahun 2023 kami juga lakukan hal serupa, mudah-mudahan alumni-alumni nya pun tidak menganggur,” sambungnya.

    Terkait pengaruh di stopnya penerimaan tenaga honorer, dikatakannya itu diluar dari perhitungan, dan tidak bisa di analisis. Terlebih dengan angka lulusan perguruan tinggi yang saat ini juga bertambah.

    Sebabnya Khairi juga mengingatkan bagi setiap lulusan baik itu perguruan tinggi, SMA/SMK sederajat untuk mengubah persepsi bahwa negara ini tidak memastikan sekolah untuk menerima masyarakat bekerja.

    Artinya kata dia, negara menyiapkan sekolah bagi setiap warga negara untuk mengais ilmu pengetahuan dan keterampilan.

    “Modal itu nanti mereka miliki untuk membentengi diri agar tidak jadi
    pengangguran, mereka ciptakan ide, inovasi, dan terus berkreasi supaya tidak dikategorikan menjadi nganggur,” tegasnya.

    Apalagi kata dia, saat ini kebanyakan masyarakat salah kaprah akan bekerja, dikarenakan banyak masyarakat yang mengkonotasikan bekerja harus selalu di dalam instansi pemerintahan.

    “Kalau di konotasikan tidak menganggur itu masuk ke instansi pemerintah sangat sempit sekali karena bekerja tidak musti di instansi, karena bekerja di swasta, inisiatif sendiri ya juga diharapkan sehingga SMK ada istilah Bursa Keterampilan Khusus (BKK) untuk alumni alumni SMK, begitu selesai SMK mereka bisa berinisiatif membuka lapangan pekerjaan,” tutupnya.

    Follow kami di Google News

    Barbareto
    Barbaretohttps://barbareto.com
    Informatif dan Menginspirasi

    Latest articles

    Related articles