Inovatif, Warga TBS Ini Manfaatkan Daun Cengkeh Bernilai Ekonomis

Selong-NTB, BARBARETO – Cengkeh merupakan tanaman asli khas Indonesia dengan berbagai macam khasiat, mayoritas warga Indonesia mengenal cengkeh sebagai salah satu instrumen yang ada pada rokok kretek. Namun, di tangan salah satu warga bernama Alwan Juzaini, berasal dari Dusun Lendang Penyonggok, Desa Tete Batu Selatan, Kabupaten Lombok Timur daun cengkeh dirubah menjadi produk kreatif berupa minyak cengkeh asli.

https://barbareto.com

“Produk utama kami disini murni berbahan dasar daun cengkeh, yang kemudian kami olah menjadi minyak cengkeh dan minyak angin,” kata Alwan, selaku pengelola Industri Kecil Menengah (IKM) Kaaffah. Sabtu, 17/10/2020.

Ia mengaku tidak sendiri dalam satu tahun menjalankan risetnya tersebut, sehingga menemukan produk minyak cengkeh, tetapi ia dibantu oleh keluarganya yang gemar melakukan inovasi riset tentang manfaat daun cengkeh.

Latar belakang dibuatnya minyak cengkeh tersebut, kata Alwan berawal dari keprihatinannya melihat daun cengkeh yang sering dianggap sampah oleh sebagian besar masyarakat di lingkungannya.

Dari dasar pemikiran itulah, ia bersama salah satu anggota keluarganya tersebut, bertekad untuk membuat inovasi dengan mengolah daun cengkeh yang bertebaran di lingkungannya menjadi produk yang bernilai ekonomis.

https://barbareto.com

“Dulunya memang warga sekitar menganggap daun cengkeh itu sebagai sampah,” ungkap Alwan. Tapi berangkat dari itulah, dirinya kemudian terinspirasi untuk mengolah daun cengkeh agar bernilai ekonomi dan bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Karena di lain sisi, ia juga mengetahui jika manfaat dari minyak cengkeh yang diproduksinya bukan hanya bernilai rupiah. Namun dari segi kesehatan, menurutnya bisa sebagai alternatif obat herbal untuk mencegah virus.

Terlebih lagi saat ini dengan adanya wabah pandemi Covid-19 masih menjalar, minyak angin produksinya tersebut menjadi salah satu alternatif yang baik untuk menambah daya imun tubuh.

Pada dasarnya, Alwan mengaku dengan satu mesin yang digunakannya saat ini bisa memproduksi sekitar 2 kwintal minyak cengkeh perbulannya. Dengan kapasitas dandang tempat pengukusan daun cengkeh berisi 4 kwintal yang dapat menghasilkan sekitar 12 kg minyak cengkeh tergantung kualitas daun.

Sebelum berhasil menjadi minyak cengkeh, Alwan menjelaskan terlebih dahulu harus melalui proses 8 sampai dengan 10 jam pengukusan daun. Kemudian dari pengukusan daun itulah akan dihasilkan uap yang dilanjutkan dengan pendinginan dari air.

“Setelah proses pendinginan itulah kemudian dihasilkan minyak cengkeh alami. Itu yang kami kemas dalam botol,” tandasnya.

Lebih lanjut lagi, Alwan menjelaskan jika dalam satu bulan ia bisa memproduksi 600 botol dengan takaran 8 ml. Itupun menurutnya masih belum memenuhi dari target yang ia susun yakni sebanyak 1000 botol target perbulannya.

“Targetnya 1000 botol perbulan, tapi untuk saat ini kami hanya mampu 600 botol saja,” ucapnya. Dengan begitu, ke depannya ia akan lebih giat mengembangkan usahanya tersebut, karena otomatis nantinya serapan tenaga kerja juga akan bertambah jika kapasitas produksinya semakin bertambah.

Bahkan yang tak kalah inovatifnya, Alwan tetap memanfaatkan sisa daun yang sudah dipakai menjadi bahan bakar lagi untuk pengukusan daun cengkeh. Abu dari sisa pembakar itu kemudian ia permentasi agar bisa dimanfaatkan lagi menjadi pupuk kompos. “Jadi tidak ada yang sia-sia,” ketusnya.

Saat ini, sambungnya, serapan tenaga kerja di IKM Kaaffah terdapat 3 orang yang bekerja di dalam penyulingan minyak. 4 orang sebagai pengisi botol, serta yang paling banyak 60 orang sebagai pengambil daun cengkeh di masing-masing kebun milik warga sekitar.
Untuk saat ini, Alwan masih fokus untuk memasarkan produk minyak cengkehnya tersebut kepada masyarakat luas. Target utamanya yakni agar minyak cengkehnya tersebut bisa diproduksi dalam jumlah banyak.

“Untuk saat ini pemasaran hanya pada teman dekat saja, target kami memang saat ini 20% untuk ritel dan 80% itu dikirim ke pabrik,” imbuh Alwan.

Namun Alwan menyebut, seiring dengan semakin besarnya tingkat produksi minyak cengkehnya tersebut, pastinya akan membutuhkan proses administrasi izin yang banyak ke depannya. Dari izin HO (surat yang diperuntukkan tidak ada gangguan dan keberatan dari lokasi usaha) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sudah ia kantongi dari pihak terakit.

Itupun menurut Alwan masih belum lengkap, karena ia belum mempunyai izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Itu yang kemudian menjadi kendalanya sampai dengan saat ini, sebab dari permintaan konsumen yang tinggi. Hanya saja dirinya akui belum berani menyebar luaskan produknya karena belum punya BPOM tersebut.

“Mungkin untuk membantu kami dalam hal produksi terlalu mahal, tapi setidaknya melalui tangan pemerintah nantinya kami bisa dibantu untuk membuat izin BPOM agar pemasaran lebih luas lagi,” tuturnya. (BAR-GOK)

Open chat
%d blogger menyukai ini: