Patut Diapresiasi, Tiga Pemuda Ini Berjuang Jadi Lentera Pendidikan di Bawah Kaki Rinjani

Lombok Timur, barbareto.com – Di saat sebagian besar anak muda sibuk dengan gawai dan kesenangan masa muda, tiga pemuda di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, memilih jalan yang berbeda.

Mereka adalah Syauqi Alfain, Hafidz, dan Marlan yang kini menjadi buah bibir di tengah masyarakat setempat.

Ketiga pemuda yang dijuluki tiga serangkai ini mendedikasikan sebagian besar energi, pikiran, dan waktu mereka untuk satu misi mulia yaitu memajukan SMP NW Terpadu Sambelia.

Bagi mereka, sekolah berbasis pondok pesantren ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan ladang perjuangan untuk mencetak generasi masa depan yang berakhlak mulia dan berwawasan luas.

Masyarakat sekitar menyaksikan sendiri bagaimana ketiga pemuda ini bergerak layaknya mesin yang tak pernah kehabisan bahan bakar. Dedikasi mereka terbagi habis dalam putaran waktu 24 jam.

Ketika mentari pagi mulai menampakkan diri di ufuk Timur, Syauqi dan Hafidz berdiri di garda terdepan, menyambut para santri dengan senyuman, memimpin disiplin, dan memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan efektif.

Di saat lelah mulai melanda, ketiganya justru berkumpul untuk mengevaluasi program kurikulum, berdiskusi dengan para guru, hingga memikirkan inovasi fasilitas sekolah.

Ketika dunia mulai terlelap, Syauqi, Hafidz, dan Marlan masih terjaga. Mereka mendampingi para santri dalam kegiatan keagamaan, mengaji, hingga menjadi teman diskusi bagi santri yang merindukan rumah.

“Kami tidak punya waktu untuk mengeluh. Bagi kami, setiap keringat yang menetes di pondok ini adalah investasi untuk masa depan anak-anak Sambelia,” kata Syauqi. (16/05/2026)

Meskipun bergerak dalam satu visi, ketiganya membawa warna dan keahlian yang saling melengkapi, sebuah perpaduan “paket lengkap” pejuang masa depan.

Syauqi, sang konseptor menyusun strategi pendidikan dan membangun relasi demi kemajuan madrasah. Sedangkan
Hafidz sebagai penjaga nilai spiritual dan tiada lupa menanamkan kedisiplinan, mengaji dan memastikan nilai-nilai keislaman tertanam kuat.
Sedangkan Marlan, pendamping setia yang selalu tersenyum pemberi semangat perjuangan.

Hafidz menegaskan bahwa misi mereka tidak main-main. “Kami ingin membuktikan bahwa sekolah di pelosok seperti Sambelia tidak boleh kalah bersaing. Santri SMP NW Terpadu harus punya mental sukses, melek teknologi, tapi tetap tunduk pada ridha guru dan orang tua,” terangnya.

Perjuangan mereka kini mulai membuahkan hasil. Semangat belajar para santri terpompa, lingkungan pondok menjadi lebih hidup, dan kepercayaan orang tua wali murid semakin menebal.

“Anak-anak muda sekarang tidak bisa hanya diperintah dengan kata-kata. Mereka butuh contoh. Ketika mereka melihat kami bekerja keras siang dan malam, dengan sendirinya semangat mereka ikut terbakar,” lanjutnya.

Mereka adalah bukti nyata bahwa pemuda bukan hanya pemimpin masa depan, melainkan penggerak perubahan di masa kini. Di tangan tiga paket pemuda pejuang ini, SMP NW Terpadu Sambelia kini sedang berlari menyongsong masa depan yang gemilang. (gok)

Febriga Rifky
Febriga Rifky
Febriga Rifky adalah Pemimpin Redaksi Barbareto. Ia bertanggung jawab atas kebijakan redaksional, pengawasan isi pemberitaan, serta memastikan seluruh produk jurnalistik Barbareto memenuhi standar etika jurnalistik dan Pedoman Media Siber.
RELATED ARTICLES

Most Popular