Lombok Timur, barbareto.com – Medali emas berhasil dipersembahkan untuk Kabupaten Lombok Timur pada ajang Porprov NTB 2026 melalui Cabang Olahraga (Cabor) sepatu roda.
Sang penyumbang itu ialah, Shellonitha Cahaya Putri Darmawan, atau yang akrab disapa Shello, atlet binaan Rinjani Inline Skater Lombok Timur yang kini duduk di bangku kelas IX SMP Negeri 1 Selong.
Tak banyak yang tahu, bahwa kecintaan Shello terhadap sepatu roda telah tumbuh sejak usianya baru menginjak empat tahun. Sejak kecil, ia telah mencoba berbagai aktivitas, mulai dari musik, bela diri hingga modeling.
Tetapi, di antara semua itu, sepatu roda menjadi tempatnya menemukan bakat sekaligus rasa percaya diri.
“Sepatu roda membuat saya merasa lebih percaya diri. Selain itu, atlet sepatu roda di Lombok Timur masih sangat sedikit, sehingga saya melihat ini sebagai peluang besar untuk terus berkembang dan berprestasi,” katanya saat ditemui media ini. (31/7/2026).
Tentu perjalanan menuju podium juara tentu tidak mudah. Pada Porprov 2023, saat masih duduk di bangku kelas V SD, Shello sudah dipercaya mewakili Lombok Timur. Saat itu ia hanya mampu membawa pulang medali perunggu. Namun kegagalan tersebut tidak membuat semangatnya padam.
Selang tiga tahun, perjuangan itu akhirnya terbayar lunas. Pada Porprov NTB 2026, Shello sukses mempersembahkan medali emas untuk Lombok Timur pada nomor Speed Slalom. Sebuah pencapaian yang menjadi kebanggaan bagi dirinya, keluarga, pelatih, dan daerah.
Prestasi tersebut kini menjadi pijakan untuk mengejar mimpi yang lebih besar. Shello berharap dapat terus meningkatkan kemampuan sehingga dipercaya mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Namun di balik torehan prestasi itu, ada kenyataan yang masih harus dihadapi para atlet sepatu roda di Lombok Timur. Hingga kini mereka belum memiliki lintasan latihan yang tetap dan layak.
Dalam sepekan, Shello berlatih tiga kali. Setiap Rabu dan Jumat sore ia berlatih di GOR Hamzanwadi, sedangkan Minggu pagi memanfaatkan kegiatan Car Free Day di depan Kantor BRI Cabang Selong. Tidak jarang latihan harus dilakukan di jalan raya karena keterbatasan fasilitas.
“Kendala terbesar kami adalah tidak memiliki tempat latihan tetap. Kadang kami harus berpindah-pindah tempat, bahkan menggunakan jalan raya untuk berlatih. Tentu kondisi ini membuat latihan tidak bisa maksimal dan memiliki risiko bagi keselamatan atlet,” bebernya.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat disayangkan mengingat olahraga sepatu roda memiliki potensi besar melahirkan atlet-atlet berprestasi bagi Lombok Timur. Tanpa dukungan fasilitas yang memadai, perjuangan para atlet akan semakin berat.
Ia pun berharap keberhasilan meraih medali emas dapat menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk membangun lintasan sepatu roda yang representatif.
“Semoga dengan medali emas yang kami raih, Bapak Bupati dapat memberikan perhatian kepada komunitas sepatu roda Lombok Timur dengan menyediakan tempat latihan yang layak. Kami ingin berlatih dengan aman dan maksimal tanpa harus berpindah-pindah tempat,” harap Shello. (gok)

