Lombok Tengah, barbareto.com – Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, memimpin sesi hearing atau dengar pendapat bersama masyarakat Desa Sengkol dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Masjid Raudhatul Maujun, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Senin (27/7).
Dialog berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat disampaikan secara langsung, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga pemberdayaan pemuda. Forum ini menjadi ruang bagi pemerintah daerah untuk mendengar sekaligus merumuskan solusi bersama atas berbagai tantangan di kawasan penyangga Mandalika.
Salah satu perhatian datang dari mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM). Berdasarkan hasil observasi mereka di SDN 1 Sengkol dan SMAN 1 Pujut, fasilitas pendidikan dinilai telah cukup memadai. Namun, motivasi belajar siswa masih perlu terus ditingkatkan. Mereka juga menyoroti masih minimnya keterlibatan tenaga kerja lokal di sektor pariwisata Mandalika yang selama ini lebih banyak diisi oleh sumber daya manusia dari luar daerah.
Mahasiswa mengusulkan adanya pelatihan bahasa Inggris dasar agar masyarakat sekitar memiliki daya saing dan dapat mengambil peluang kerja di kawasan wisata internasional tersebut.
Menanggapi hal itu, Gubernur menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTB tengah mengakselerasi Program Desa Berdaya sebagai strategi pengentasan kemiskinan ekstrem di desa-desa penyangga kawasan pariwisata.
“Setiap tahunnya kita menargetkan sekitar 40 sampai 45 desa. Program ini adalah orkestrasi lintas sektor, dan kami sangat berharap adik-adik mahasiswa KKN juga bisa mengambil bagian dalam proses pemberdayaan masyarakat ini,” ujar Gubernur.
Untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, Pemprov NTB juga mulai mengembangkan inovasi pendidikan vokasi melalui konsep golden ticket bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
“Tahun ini kita melakukan uji coba dengan mengembangkan konsep golden ticket untuk jenjang SMK. Kita sudah mengidentifikasi tujuh SMK berpotensi besar, dan akan kita tempatkan tujuh kepala sekolah paling hebat se-NTB dengan insentif khusus. Harapannya, spesifikasi lulusan SMK di wilayah selatan ini dapat disesuaikan untuk menjawab tantangan sektor pariwisata maupun kelautan,” tegasnya.
Mahasiswa KKN UGM juga menyampaikan sejumlah temuan di bidang kesehatan dan lingkungan. Meski Puskesmas Sengkol telah memiliki fasilitas yang memadai, akses masyarakat menuju layanan kesehatan masih menjadi kendala, terutama bagi warga di Dusun Grupuk yang berjarak cukup jauh dengan kondisi jalan yang rusak.
Mereka mencontohkan adanya kasus bayi yang mengalami sesak napas dan infeksi jamur yang terlambat mendapatkan penanganan karena keterbatasan transportasi.
Menanggapi laporan tersebut, Gubernur langsung menginstruksikan langkah cepat kepada jajaran rumah sakit milik pemerintah provinsi.
“Mengenai warga yang sakit di Grupuk, saya sudah meminta langsung kepada Direktur RS Mandalika untuk membawa tim ke sana, berkomunikasi, dan membawa pasien ke rumah sakit agar dirawat secara gratis. Rumah Sakit Mandalika ini adalah rumah sakit provinsi terbesar di wilayah selatan, fasilitasnya harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat kita,” instruksi Gubernur.
Selain persoalan kesehatan, mahasiswa juga menyoroti dampak pembukaan lahan jagung dan tembakau di wilayah hulu yang dinilai meningkatkan risiko longsor dan sedimentasi. Di sisi lain, masyarakat masih sangat bergantung pada komoditas tersebut sebagai sumber penghidupan.
Menurut Gubernur, persoalan tersebut perlu dicarikan solusi yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan.
“Pariwisata berkualitas sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Kemarin saya turun ke pantai dan melihat langsung pantainya sudah menjadi lumpur. Sedimentasi ini terjadi akibat penanaman jagung dan penggunaan pestisida secara masif di hulu yang merusak pesisir kita. Ini harus segera menjadi perhatian untuk kita diskusikan titik temu kebijakannya bersama,” urainya.
Dalam forum tersebut, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pujut turut menyampaikan aspirasi mengenai minimnya ruang publik dan fasilitas olahraga bagi generasi muda, termasuk belum optimalnya pemanfaatan Lapangan Mandalika maupun gedung serbaguna yang ada di wilayah tersebut.
Menurutnya, keterbatasan ruang aktivitas positif berpotensi mendorong sebagian pemuda terjerumus pada berbagai perilaku negatif.
Gubernur menyambut baik aspirasi tersebut. Namun, ia menjelaskan bahwa sebagian fasilitas yang dimaksud merupakan aset pemerintah kabupaten sehingga membutuhkan koordinasi lintas pemerintahan.
“Kewenangan ini terbagi dua. Seperti pasar di belakang rumah sakit, gedung serbaguna, dan Lapangan Mandalika itu masuk dalam aset dan kewenangan kabupaten. Namun, kami dari provinsi akan segera mengoordinasikannya dengan kabupaten apabila diperlukan bantuan intervensi dari provinsi,” jelasnya.
Menutup dialog, Gubernur menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTB bersama Forkopimda dalam menangani persoalan narkoba yang dinilai menjadi ancaman serius bagi generasi muda.
“Darurat narkoba ini bukan hanya di NTB, tapi di Indonesia. Kami di Forkopimda secara khusus sedang menyusun strategi penyelesaian persoalan ini. Sudah dua kali rapat, insyaallah minggu depan kita sudah ambil keputusan arah penanganan tegas narkoba di NTB,” pungkas Gubernur.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Utama RS Mandalika Provinsi NTB dr. Oxy Cahyowahyuni, Wakil Ketua IV BAZNAS NTB Ahmad Rusli, jajaran perangkat daerah Pemerintah Provinsi NTB, tokoh agama TGH. Lalu Abdurrahman Athar, serta ratusan mahasiswa KKN dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Mataram (Unram), Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), dan UIN Mataram. (*)

