BARBARETO – Bupati Lombok Timur (Lotim) Haerul Warisin melakukan pemantauan langsung terhadap progres pemasangan jembatan bailey di Desa Perigi, Kecamatan Suela.
Bupati Haerul Warisin menekankan bahwa pemasangan jembatan bailey bantuan dari Kodam IX/Udayana sangat diperlukan mengingat infrastruktur darurat ini menjadi solusi penghubung menuju Desa Puncak Jeringo pasca ambrol akibat diterjang luapan air sungai.
“Atas nama Pemerintah Daerah dan masyarakat Lombok Timur, kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTB dan Pangdam IX/Udayana yang telah berkenan membantu masyarakat kami yang terdampak bencana,” ujar Bupati.
Saat melihat langsung konstruksi fisik pemasangan jembatan bailey yang hampir tuntas, Bupati Lotim mencatat beberapa detail akhir masih memerlukan pembenahan agar layak dioperasikan secara maksimal bagi masyarakat setempat.
Bupati mengungkapkan bahwa prioritas pengerjaan saat ini difokuskan pada penguatan jalan melalui penimbunan tanah dan perataan material.
Langkah teknis tersebut diambil guna menjamin keselamatan serta kenyamanan kendaraan saat melintasi jembatan bailey tersebut.
”Masih belum rampung sih ya, karena banyak yang harus disempurnakan finishing-nya. Jadi tinggal kita tambah penimbunan-penimbunan, kemudian perataan-perataan,” ujar Haerul Warisin. Senin, 12 Januari 2025.
Bupati juga menginstruksikan pembuatan akses tangga di sekitar bantaran sungai bagi penduduk sekitar.
Fasilitas tambahan ini bertujuan mempermudah aktivitas warga yang masih bergantung pada sumber air di bawah jembatan tersebut.
”Di samping itu juga kita harus buat tangga-tangga untuk kebutuhan masyarakat ya, supaya mereka gampanglah mau menggunakan air yang ada di sungai ini,” ungkapnya.
Jembatan Bailey Bantuan Kodam IX/Udayana
Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menjelaskan mengenai jembatan bailey hasil pinjam dari Kodam IX/Udayana.
Ia menjelaskan bahwa masa pinjam pakai alat tersebut umumnya berdurasi dua belas bulan. Kendati demikian, Pemerintah Daerah berupaya keras agar pembangunan jembatan permanen tidak menunggu waktu lama.
”Mudah-mudahan sebelum satu tahun kita sudah ada anggaran untuk membangun. Target kita maksimal dalam 18 bulan sudah harus kita bangun permanen,” jelasnya.
Koordinasi lintas instansi telah dilakukan dengan mengirimkan laporan resmi ke BNPB pusat di Jakarta. Hal ini sangat mendesak mengingat aliran sungai di wilayah Suela memiliki riwayat kebencanaan yang berulang setiap tahunnya.
”Saya sudah melapor kepada Bencana Alam Nasional atau BNPB. Mudah-mudahan mereka memperhatikan kita karena sungai ini sering membawa dampak bencana setiap tahun,” ungkapnya.
Bupati Haerul warisin menegaskan bahwa konektivitas antar wilayah merupakan kebutuhan dasar publik yang tidak boleh terabaikan.
Terhambatnya mobilitas di titik ini dinilai berdampak langsung terhadap laju ekonomi serta akses pendidikan masyarakat desa.
”Karena kita tidak bisa terlambat, jalan ini kebutuhan dasar agar ekonomi bergerak, termasuk kebutuhan untuk pendidikan dan kesehatan. Jadi harus disegerakan,” tegasnya.

