Ibu Asal Sikur Melahirkan di Ambulance Tanpa Bidan, Puskesmas Akui Salah SOP

Lombok Timur-NTB. BARBARETO – Seorang ibu hamil bernama Herni Suriyani (36) asal Dusun Otak Desa, Desa Sikur, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur mengalami situasi yang nahas yakni melahirkan bayinya di tengah perjalanan tanpa didampingi oleh bidan ketika di dalam mobil Ambulance milik Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sikur. Dengan kejadian tersebut, pihak Puskesmas Sikur akui adanya kelalaian yang dilakukan oleh petugasnya.

“Yang naik ke ambulance itu cuman 1 orang perawat dan 1 orang sopir saja, tidak ada bidannya,” kata Juki selaku Suami dari Herni ketika dikonfirmasi melalui jaringan telepon.

Juki mendapatkan alasan dari pihak Puskesmas bahwa ia bersama keluarganya yang lain tidak diperbolehkan menaiki mobil ambulance, disebabkan istrinya yang reaktif ketika dilakukan rapid test di Puskesmas Sikur.

Adapun hasil dari rapid test tersebut, ia dapati setelah diberitahukan oleh petugas Puskesmas Sikur.

“Istri saya reaktif setelah dikasih tahu oleh petugas Puskesmas berdasarkan pengambilan sampel darah dan pengecekan suhu tubuh istri saya yang mencapai 37,9 derajat celcius,” tuturnya.

Ia menceritakan ketika masih di Puskesmas Sikur, dirinya mengaku panik dan cemas melihat kondisi istrinya yang sudah mendekati proses kelahiran. Namun, petugas medis yang ada di Puskesmas Sikur tidak ada yang berani masuk setelah mengetahui Herni reaktif.

“Ketika tidak ada yang berani masuk, untuk itulah kami semua akhirnya diajak untuk masuk bersama ke ruangan tempat istri saya itu. Dan memang kondisi bayi sudah mau keluar,” sebutnya.

Seusai itu, lanjut Juki, pihak Puskesmas Sikur kemudian merujuk Herni ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Soedjono Selong, untuk melakukan proses kelahiran bayi.

Pada waktu itu, Juki mengatakan supaya pihak keluarga atau bidan diperbolehkan masuk ke dalam mobil ambulance. Namun, karena alasan reaktif, keluarga tidak diperkenankan untuk ikut masuk ke dalam mobil ambulance.

Kemudian sekitar jam 04:00 WITA akhirnya Herni melahirkan dalam perjalanan menuju RSUD Soedjono Selong, tanpa didampingi seorang bidan. Karena tidak bisa ditangani oleh perawat yang berada di Ambulance tersebut, perawat itupun mengubungi bidan dari RSUD Soedjono Selong agar menuju ke lokasi proses kelahiran Herni.

“Istri saya melahirkan di perjalanan menuju RSUD Sodejono Selong, tepatnya di jalan Gelang, Kecamatan Selong itu,” ucapnya.

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Puskesmas Sikur Musdikin, S.Kep, Ns. menerangkan jika sudah memperingati seluruh petugas medis yang ada di Puskesmas Sikur agar mentaati Standar Operasional Prosedur (SOP). Ketika didapati adanya pasien yang harus dilayani dengan standar protokol Covid-19.

“Kami sudah mengingatkan kepada semua tenaga medis, bahkan dokternya supaya mentaati SOP ketika ada pasien yang reaktif. Bahkan kami sudah menyiapkan perlengkapan APD ketika di dalam mobil ambulance” jelasnya.

Dalam kejadian itu, kata Musdikin baju APD tersebut sudah dipersiapkan untuk 3 orang tenaga medis ketika di dalam ambulance, yaitu sopir, perawat dan bidan. Ketika mendapati informasi tentang tidak adanya bidan di dalam mobil ambulance, dirinya mengaku sangat kecewa dengan petugas medis yang ada di Puskesmas Sikur.

“Bidan tidak ikuti di dalam mobil ambulance itu, sudah diluar pengetahuan saya,” tandasnya.

Namun yang jelas, ia sudah memerintahkan petugasnya dari awal ketika mengetahui adanya pasien hamil yang harus dirujuk ke RSUD Soedjono Selong sesuai dengan standar protokol Covid-19.

Secara sadar, iapun mengakui kelalaian yang disebabkan oleh petugasnya ketika menangani pasien atas nama Ibu Herni. Yang ketika di dalam mobil ambulance, tidak ada seorang bidan yang menemani.

“Ujung-ujungnya, mohon maaf kami tetap salah. Tapi secara prosedur memang kamu sudah melayani dengan semaksimal mungkin,” katanya.

Terpisah, Dokter yang menangani Herni yakni dr. Faried Wajdy ketika ditemui di Puskesmas Sikur membenarkan hasil reaktif dari rapid test yang dilakukan oleh Herni. Yang kemudian hasil dari rapid test tersebut dibawa oleh petugas medis yang berada di mobil ambulance, untuk kemudian menjadi berkas tambahan ketika sesampai di RSUD Soedjono Selong.

Ia juga mengakui bahwa pasien Herni harus dilayani dengan standar protokol Covid-19. Dan tak menapikkan jika fasilitas perlengkapan seperti baju APD juga sudah disediakan oleh pihak Puskesmas Sikur.

Terkait dengan tidak diperbolehkannya keluarga ikut masuk ke dalam mobil ambulance, Faried mengatakan jika memang pihak keluarga tidak boleh ikut dalam satu ambulance ketika pasien di dapati reaktif.

“Sebenarnya di dalam itu ada dua perawat, yang satu sopir mobil dan yang satunya di belakang menemani pasien,” imbuhnya.

Open chat
%d blogger menyukai ini: