Investor Ingin Bangun 200 Unit Restaurant Apung di Pantai Ekas, Warga: Jangan Ambil Mata Pencaharian Kami

Lombok Timur-NTB. BARBARETO – Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh warga Dusun Ekas, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur pada (5/11), dugaan sementara dari warga sekitar, aksi itu dipicu oleh warga yang tidak setuju dengan pembangunan penginapan dan restaurant apung yang diinisiatori oleh PT. Adventure.

Muhammad Saleh salah satu warga disekitar Dusun Ekas, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur menuturkan, keresahan warga karena investor akan membangun 200 penginapan dan restaurant apung di pantai Ekas serta belum jelasnya skema relokasi yang akan dilakukan jika nantinya rumah warga tersebut di pindahkan.

Oleh sebab itulah, ia mengungkapkan kemarahan warga dilampiaskan dengan aksi demonstrasi kemarin pada (5/11), karena tidak setuju dengan adanya bangunan restauran dan penginapan apung oleh pihak investor.

“Aksi itu kemarin sebenarnya gara-gara ada investor yang akan membangun 200 penginapan dan restaurant apung di laut, yang dimana laut itu merupakan salah satu tempat warga mencari ikan,” tandasnya.

Bahkan menurut Saleh, jika pembangunan itu akan dilanjutkan maka berdampak pada lokasi mata penacaharian warga. Karena dengan dibangunnya 200 penginapan dan restaurant apung itu, tentu akan menutupi lautan Ekas.

Ditambah lagi, ia melanjutkan, rumah warga yang berada disekitar bibir pantai Ekas tersebut nantinya akan direlokasi. Salah satu alasan relokasi itulah warga belum menerima, sebab antara jenis rumah warga yang permanen dan tidak permanen akan diganti dengan jenis rumah yang sama.

Tentu menurutnya dengan model relokasi seperti itu, akan menimbulkan rasa ketidakadilan pada warga yang direlokasi. Itulah yang kemudian, menjadi landasan utama warga merasa keberatan dengan pembangunan restaurant dan penginapan apung tersebut.

“Keresahan warga itu karena belum mengetahui kejelasan dari model ganti rugi itu,” ungkap Saleh kepada BARBARETO ketika ditemui di kediamannya. Sabtu, 7/11/2020.

Ia mengatakan, jumlah rumah warga yang terkena imbas dari pembangunan itu sekitar 30 rumah. Yang sampai dengan saat ini, masih belum menerima kejelasan terkait skema relokasi.

Selain itu, terkait dengan aksi yang dilakukan kemarin pada (5/11) oleh warga, kata Saleh itu merupakan aksi spontanitas yang tanpa sepengetahuan dari pihak Desa ataupun Pemerintah setempat.

“Mengenai aksi yang kemarin itu, warga melakukannya dengan spontan. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Desa Ekas Buana Ahmad Nursandi, menceritakan kronologis kejadian aksi demonstrasi yang dilakukan oleh warga sekitar Ekas.

Awalnya, ia mengatakan bahwa terkait dengan relokasi rumah warga tersebut, sebetulnya merupakan program dari Pemerintah Daerah Lotim untuk menata Pantai Ekas setelah proses sosialisasi pada sebelumnya.

Namun, lanjutnya, asumsi yang berkembang di telinga warga yakni seakan-akan relokasi tersebut ada intervensi dari pihak Investor yang bernama PT. Adventure. Itulah yang tidak dikehendaki oleh warga sekitar, yang terkena imbas dari relokasi tersebut.

Ia menyebut bahwasanya memang dalam beberapa hari tekahir banyak pejabat yang berdatangan, baik dari eksekutif maupun legislatif.

Ketika kemarin kedatangan dirjen pariwisata, kata Nursandi secara kebetulan pihak dari investor yaitu PT. Adventure ternyata juga datang pada acara itu.

“Ibu Yuli (pihak investor dari PT. Adventure) itu ternyata datang kemarin, itu yang membuat warga geram dan melakukan aksi secara spontanitas,” jelasnya.

Warga menolak kedatangan pihak investor tersebut bukan tanpa alasan, namun Nursandi menjelaskan bahwa warga yang keberatan beralasan karena investor tersebut akan membangun 200 unit dan penginapan dan restaurant apung di atas laut, yang notabenenya laut itulah sebagai garapan warga sekitar memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sejauh ini ia membenarkan jika 30 rumah warga yang akan direlokasi, akan tetapi data tersebut nantinya akan di tinjau ulang untuk validasi. Adapun luas lahan yang disiapkan oleh Pemda untuk relokasi rumah warga sekitar 1 hektar.

“Luas lahan tempat relokasi warga sudah dipersiapkan oleh pemda sekitar 1 hektar,” kata Nursandi. (fgr)

Open chat
%d blogger menyukai ini: