Oleh: Mastur Sonsaka (Penulis Buku Pepadu
Sasak Perspektif Etnopsikologi)
Tradisi Peresean masyarakat Sasak di Pulau Lombok, merupakan salah satu warisan budaya yang kaya makna dan tetap relevan di tengah dinamika modernisasi. Lebih dari sekadar pertunjukan seni pertarungan tradisional menggunakan tongkat rotan (penyalin) dan perisai kulit (ende), Peresean merepresentasikan perwujudan yang paripurna dari falsafah Wiraga, Wirama, dan Wirasa. Ketiga pilar tersebut membentuk harmoni utuh antara dimensi jasmani, ritmis, dan spiritual dalam kehidupan manusia.
Wiraga mencerminkan aspek fisik dan ragawi yang menjadi fondasi utama dalam Peresean. Setiap pepadu dituntut memiliki kekuatan, kelincahan, ketahanan, serta penguasaan teknik gerak yang mumpuni. Gerakan menyerang, bertahan, dan menghindar menuntut disiplin jasmani yang tinggi serta postur yang gagah. Dimensi ini tidak hanya menekankan kekuatan fisik semata, melainkan juga tanggung jawab atas tubuh sebagai amanah yang harus dibina dan dikuatkan, sesuai dengan nilai-nilai ketangguhan yang dijunjung tinggi dalam budaya Sasak.
Sementara itu, Wirama menghadirkan prinsip keselarasan ritme dan keseimbangan. Peresean bukanlah pertarungan yang chaos, melainkan seni yang mengikuti irama tertentu, baik dalam pukulan, langkah, respons terhadap lawan, maupun pengawasan wasit (pakembar). Unsur ini mengajarkan pentingnya timing yang tepat, sinkronisasi gerak, serta penyesuaian dengan konteks. Dalam perspektif yang lebih luas, wirama mencerminkan filosofi kehidupan Sasak yang selaras dengan ritme alam, siklus sosial, dan harmoni komunal, sebagaimana tertuang dalam semangat “hidup lurus”.
Puncak keutuhan falsafah tersebut terletak pada Wirasa, yaitu dimensi penghayatan emosional dan kepekaan batin. Di balik setiap benturan, terkandung nilai-nilai luhur seperti sportivitas, keberanian yang terkendali, persaudaraan, serta penghormatan terhadap lawan. Wirasa menjadikan Peresean bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan medium pengasuhan jiwa yang mendalam. Tanpa wirasa, tradisi ini kehilangan ruh dan berpotensi tereduksi menjadi kekerasan belaka. Dengan wirasa, Peresean menjadi sarana pendidikan karakter yang menginternalisasi nilai kesederhanaan, kebersihan hati, dan persatuan.
Ketiga unsur Wiraga, Wirama, dan Wirasa bekerja secara integral dan saling melengkapi dalam Peresean, sehingga menjadikannya perwujudan falsafah yang paripurna. Integrasi ini selaras dengan semangat “Lombok Mirah Sasak Adi”, yang menekankan kejujuran sebagai permata utama dalam realitas kehidupan.
Dalam konteks kontemporer, di mana generasi muda sering terpapar disintegrasi antara tubuh, ritme, dan jiwa akibat pengaruh teknologi dan gaya hidup modern, Peresean menawarkan model pendidikan holistik yang berharga. Pelestarian tradisi ini bukan semata upaya menjaga atraksi budaya atau pariwisata, melainkan komitmen mempertahankan warisan filosofis yang membentuk manusia utuh, tangguh, harmonis, dan berempati. Oleh karena itu, berbagai pihak pemerintah, tokoh adat, akademisi, serta generasi muda—perlu bersinergi untuk terus mendalami, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai luhur Peresean.
Peresean bukanlah relik masa lalu semata. Ia merupakan guru kehidupan yang abadi, di mana falsafah Wiraga, Wirama, dan Wirasa menyatu secara sempurna. Melalui pemahaman dan penghayatan yang mendalam, tradisi ini diharapkan terus berkontribusi bagi pembentukan karakter bangsa yang berakar kuat pada kearifan lokal Nusantara.

