Serius Garap Pertanian, Pemkab Karangasem Lirik Industri Kapas Menjadi Benang Hingga ke Jatim

1
114
Serius Garap Pertanian, Pemkab Karangasem Lirik Industri Kapas Menjadi Benang Hingga ke Jatim
Foto: Pemkab Karangasem Lirik Industri Kapas Menjadi Benang Hingga ke Jatim

BARBARETO.com | Pemkab Karangasem tidak ingin setengah-setengah dalam menjalankan programnya. Seperti salah satunya, program di bidang pertanian yakni budidaya kapas, baik Bupati dan Wakil Bupati pun ingin menuntaskan hingga menjadi benang tenun untuk memenuhi pasar benang kebutuhan pengerajin tenun di Karangasem.

Keseriusan Bupati I Gede Dana dan Wakil Bupati I Wayan Artha Dipa untuk menjadikan Kabupaten Karangasem sebagai sentra kapas dan benang di Bali, dibuktikan dengan mengutus Dinas Pertanian, Dinas UKM Koperasi, dan Perindag, Balepelitbangda serta tenaga ahli untuk belajar dan meniru budidaya maupun industri kapas ke Jawa Timur, tepatnya ke Kabupaten Tuban, Malang dan Pasuruan.

Rombongan yang berjumlah 7 orang termasuk Wakil Bupati I Wayan Artha Dipa, di hari pertama menjajaki kabupaten Tuban dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Surabaya, rombongan di terima oleh asisten perekonomian dan pembangunan Setda Tuban, Endro Budi Sulistyo, dan sejumlah OPD terkait di ruang rapat P. Soedjono Poetro.

Dari pemaparan Asisten Endro Budi Sulistyo, budidaya kapas di Tuban ada dua varietas yakni kapas putih dan kapas berwarna coklat. Saat ini, budidaya kapas terpusat di satu Kecamatan yakni di Kecamatan Kerek.

“Paling banyak memang di Desa Kedung Rejo, luas lahan kapas seluas 25 hektar,” papar Endro Budi Sulistyo.

Disampaikan Endro Budi Sulistyo, hasil budidaya kapas baik kapas putih dan coklat diolah menjadi benang yang masih dilakukan dengan cara tradisional. Benang tersebut, lalu dipakai membuat kain tenun gedog. Sesuai instruksi Bupati Tuban, penggunaan batik, harus dari hasil tenun pengerajin kain gedog ini.

Disebutkanya lagi, sampai saat ini, para petani kapas masih dilakukan secara mandiri dan belum ada kucuran anggaran dari pemerintah.

“Mereka masih mandiri, kami hanya menciptakan pasar melalui instruksi Bupati,” ujarnya.

Proses pembuatan kain tenun, kata Endro,masih dilakukan dengan cara tradisional. Baik alat Pemintalan benang maupun kain gedong masih dilakukan secara tradisional, bukan dari mesin.

Sebagian besar para pengerajin merupakan binaan dari Dinas Koperasi, dan Perdagangan, serta Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan kabupaten Tuban.

“Hasil produksi kapas, masih untuk kebutuhan pengerajin tenun batik Gedog khas Tuban,” ujarnya lagi.

Baca juga : Hasil Tanam Bibit Kapas di Karangasem Memuaskan

Usai bertemu, Wakil Bupati I Wayan Artha Dipa dan rombongan langsung menuju ke lapangan, tepatnya ke Desa Kedung Rejo, Kecamatan Kerek. Salah satu Desa dari 6 Desa di Kecamatan Kerek yang dijadikan sebagai sentra budidaya kapas.

Rombongan yang didampingi oleh Kadis Koperasi dan Perdagangan, Agus Wijaya untuk menjajaki UD. Sekar Ayu, sekaligus sebagai pembina pengerajin kapas menjadi benang lalu dijadikan kain tenun batik Gedog.

Uswahtun Asanah, selaku pemilik Sekar Ayu mengakui, proses pemintalan kapas menjadi benang masih dilakukan dengan sangat sederhana, tidak ada alat modern yang dipakai.

“Mulai panen lalu proses pemisahan biji kapas, kemudian pintal, di rendam dalam larutan kanji atau nasi aking, barulah di jemur dan di sisir, lalu barulah bisa jadi benang,” ujarnya.

Dikatakanya, setelah benang siap ditenun, barulah diberikan kepada pengerajin yang biasanya dibawa pulang untuk dikerjakan. Ia pun mengaku, menggeluti usaha ini sejak turun temurun hingga saat ini. Kesulitannya, regenerasi pemintal maupun penenun masih sangat jarang.

“Ini menjadi PR besar, bagaimana anak-anak muda menggelutinya, sekarang baru ada beberapa yang mau,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa mengatakan, kunjungan ini merupakan keseriusan Pemkab Karangasem dalam upaya pengembangan dan pembudidayaan kapas menjadi benang. Apalagi, dengan kondisi lahan yang hampir sama antara Kabupaten Tuban dan Karangasem, tentu ini harus dikembangkan dengan serius.

“Budidaya kapas sejatinya sudah ada sejak dulu, namun hilang dan kami ingin kembali membangkitkan budaya dan kearifan lokal,terutama kain endek dan songket,” ujarnya.

Melihat proses pemintalan kapas menjadi benang yang tidak terlalu sulit, Artha Dipa mengaku optimis harapan Pemkab untuk menjadikan Karangasem sebagai sentra benang terwujud,sehingga bisa memenuhi kebutuhan benang untuk pengerajin tenun di Bali.

“Tinggal sekarang dinas terkait yang diajak bisa mengimplementasikan apa yang di dapat dari Tuban,” pungkasnya.

1 KOMENTAR