Kasus Harian PMK Pada Ternak di Lotim Mulai Melandai

0
140
Kasus Harian PMK Pada Ternak di Lotim Mulai Melandai
Foto: Drh. Hultatang, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan, pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur.

BARBARETO.com | Pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan telah melakukan berbagai upaya, guna menekan angka penyebaran virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.

Diantara upaya-upaya itu adalah dengan menutup pasar hewan, membatasi pergerakan manusia, membatasi pergerakan hewan, melakukan sosialisasi dan edukasi kepada pemilik hewan ternak hingga deteksi dini.

Hal itu dikatakan, Drh. Hultatang, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan, pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur, Selasa (7/6/22).

Berdasarkan data terbaru Disnakkeswan, jumlah hewan ternak yang terpapar virus PMK di Lotim per tanggal 7 Juni 2022 sebanyak 8.651 ekor, dengan rincian 3.944 ekor yang sakit, 4.652 dinyatakan sembuh dan 55 ekor dipotong paksa.

Adapun tingkat kesembuhannya, lanjut Hultatang, yakni 53,8 persen, tingkat kesakitan (masih dalam perawatan) 45,6 persen, dan untuk potong paksa 0,6 persen.

“Jadi, kalo kita lihat saat ini penurunan kasus hariannya sudah cukup signifikan. Biasanya sehari itu bisa sampai 400, sekarang sudah di bawah 200 ekor per hari,” ungkapnya.

Sebaran PMK di Pulau Lombok
Foto: Sebaran PMK di Pulau Lombok

Baca juga : Dinas Keswan Lotim Siapkan Langkah Antisipasi Gejolak Sosial Akibat Penyakit PMK Pada Sapi

Karnanya ia berharap, agar petugas di bawah segera melaporkan tingkat kesembuhan di lapangan. Karna, kata dia, kriteria kesembuhan itu adalah jika hewan ternak itu sudah mau makan. Adapun jika masih ada keluhan pada kaki, hanya menunggu proses kesembuhan saja.

Selanjutnya, Hultatang menjelaskan, bahwa solusi yang paling baik dalam membebaskan penyakit menular strategis pada hewan adalah dengan cara memberikan vaksinasi kepada hewan ternak.

Lanjut dia, dengan vaksinasi maka akan timbul kekebalan, dimana sampai saat ini kekebalan yang didapatkan hanya karna inveksi alam.

“Nah informasi yang kita dapatkan dari kementerian, vaksin akan datang pada pertengahan juni. Sehingga insyaAllah akhir juni kita sudah bisa melakukan vaksinasi,” tuturnya.

Terkait jumlah vaksin yang dibutuhkan, tentu mengacu pada jumlah populasi hewan ternak yang berpotensi terkena PMK, dimana saat ini jumlah populasi sapi di lotim berjumlah 157.787 ekor, kerbau 4.019 ekor dan kambing 96.615 ekor.

“Kalo kita total semua jumlah populasi hewan ternak yang berpotensi terkena PMK, maka kita membutuhkan sebanyak 258 ribu dosis vaksin,” urainya.

Namun demikian, dengan keterbatasan anggaran saat ini tentu akan berpengaruh pada jumlah vaksin yang akan diterima.

Karnanya, akan lebih diprioritaskan kepada sapi untuk di vaksin, karna jumlahnya yang paling banyak terkena PMK. Selain juga tentu dengan melihat daerah-daerah yang paling padat ternaknya.

Adapun wilayah yang paling padat dan paling banyak kasusnya adalah Kecamatan Aikmel, Wanasaba, Pringgabaya, Lenek dan Kecamatan Pringgasela.

“Terutama wilayah Kecamatan Pringgasela, Lenek, Aikmel dan Wanasaba yang merupakan kawasan sapi potong, dan jumlah populasinya terbanyak di sana,” tandasnya.

Selanjutnya terkait dengan SDM atau petugas lapangan yang nantinya akan memberikan vaksin dan penanganan lainnya, menurut Hultatang, sudah sangat memadai.

“Ada ratusan orang kita yang bergerak di semua kecamatan, bahkan di semua desa, karna kita punya desa binaan juga,” pungkasnya.