
Lombok Timur, barbareto.com – Ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi (YPH) Pondok Pesantren Darunnahdlatain (PPD) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Pancor, Dr. H. M. Djamaluddin, menyampaikan tiga pesan utama dalam upacara peringatan Hari Santri Nasional yang digelar di Gor Hamzanwadi, pada Kamis kemarin, 22 Oktober 2026.
Upacara tersebut dihadiri oleh santri, guru, serta pengurus yayasan dari 17 lembaga pendidikan di lingkungan pesantren.
Dalam sambutannya, Djamaluddin menegaskan komitmen YPH terhadap penolakan segala bentuk kekerasan dan perundungan (bullying) di lingkungan pesantren.
“Beberapa bulan bahkan minggu ini ada saja berita tentang hal-hal negatif, kekerasan fisik, bahkan kekerasan seksual, bullying yang terjadi di pondok pesantren. Kami tegaskan bahwa Yayasan Pendidikan Hamzanwadi sangat tegas mengenai hal ini, bahwa kita anti terhadap bullying, anti terhadap tindakan kekerasan, baik guru terhadap santri maupun santri senior terhadap santri juniornya,” tegasnya di hadapan santri dan santriwati. (23/10/2026)
Pesan kedua, Ia mengajak seluruh warga pesantren untuk menjaga nama baik lembaga pendidikan yang menjadi rumah bersama.
Menurutnya, terdapat 17 lembaga pendidikan di lingkungan pesantren dengan segala kelebihan, kekurangan, dan fasilitasnya.
“Mari kita jaga rumah kita ini, jangan sampai tercemar oleh kelakuan kita sendiri, kelakuan dari senior terhadap juniornya, kelakuan dari guru terhadap santrinya. Ini yang sering terjadi bukan hanya berefek pada individu yang terlibat, tetapi nama pondok pesantren dan madrasah menjadi rusak oleh karena ini,” pungkasnya.
Pesan ketiga, pria yang juga sebagai Anggota DPRD Lombok Timur juga mendorong para santri untuk selalu giat belajar dan menuntut ilmu.
Ia mengingatkan bahwa tujuan orang tua mengirimkan anak-anak mereka ke pesantren, baik yang diasramakan maupun tidak, adalah agar menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak.
“Yayasan Pendidikan Hamzanwadi membina kalian semua untuk menjadi insan-insan yang berguna ke depannya, bukan saja bagi diri kalian, bagi keluarga kalian, tetapi juga lingkungan kalian, masyarakat, dan bangsa. Artinya beban pundak kalian itu hanya satu, yaitu belajar giat, rajin, dan kemudian mengikuti apa yang diajarkan oleh guru-guru kita,” jelasnya.
Ia menambahkan, semangat meneguhkan negeri dapat diwujudkan dari lingkungan pondok pesantren, mulai dari asrama, mushola, hingga ruang kelas.
“Kalau kita bicara tentang meneguhkan negeri dari sisi pondok pesantren, itu semua ada di pondok pesantren. Di dalam asrama, di lingkungan mushola, di dalam kelas, itu semua kita tegakkan di dalam pondok pesantren,” tutupnya. (gok)


