Lombok Timur, barbareto.com – Ketua Umum Nahdlatul Wathan (NW), Dr. TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, menegaskan bahwa pendidikan merupakan sarana strategis untuk mengangkat martabat masyarakat dan bangsa menuju perubahan positif.
Hal ini menegaskan bahwa kontribusi Nahdlatul Wathan tidak berhenti pada pendirian lembaga pendidikan semata, melainkan pada hasil nyata yang lahir dari proses tersebut, yakni manusia-manusia yang berperan sebagai guru, pendidik, dan penggerak masyarakat.
Hal itu disampaikan oleh Ketum PB NW saat menyampaikan pengajian pada acara HULTAH Madrasah NWDI yang ke 91 di Anjani, Lombok Timur.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks pembangunan mobilitas sosial melalui madrasah. Menurutnya, yang mengangkat derajat seseorang bukanlah kekayaan atau keturunan, melainkan ilmu, akhlak, dan pengabdian.
Hal inilah yang menjadi fondasi bagi alumni Madrasah NWDI dan NBDI dalam memasuki berbagai sektor kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Saat ini kita dapat melihat bahwa alumni lembaga pendidikan NW tidak hanya berkontribusi di lingkungan masyarakat asal mereka, tetapi juga berperan dalam urusan agama, pendidikan, administrasi, penerangan, peradilan, dan pelayanan negara. Mereka berfungsi sebagai infrastruktur mobilitas sosial,” ujarnya dihadapan ratusan ribu jamaah. (11/10/2026)
Lebih lanjut, Ia menekankan bahwa lembaga pendidikan NW telah mampu mengubah ilmu menjadi kesempatan. Hal ini tercermin dari perluasan partisipasi perempuan melalui Madrasah NBDI, di mana perempuan memperoleh akses pendidikan, tampil sebagai pemimpin lembaga, penggerak keluarga, serta pelayan masyarakat.
Pendirian Madrasah NWDI dan NBDI beserta organisasi NW oleh Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, lanjutnya, membuktikan bahwa pendidikan perempuan bukanlah ancaman terhadap agama. Sebaliknya, perempuan terdidik menjadi kekuatan bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara.
Dalam hal keberlanjutan kaderisasi, pria yang juga diberi gelar Hamzanwadi II itu menjelaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari seberapa banyak lulusan yang mampu mendidik orang lain.
“Para alumni Madrasah NWDI dan NBDI kembali ke masyarakat, mendirikan madrasah, pesantren, majelis taklim, dan lembaga sosial. Satu guru mendidik puluhan murid, puluhan murid melahirkan ratusan penggerak, dan ratusan penggerak membangun ribuan ruang pengadilan,” tuturnya.
Terkait pembangunan modal sosial dan organisasi, Ia menekankan pentingnya tradisi gotong royong, penghormatan kepada guru, semangat beramal, kedisiplinan organisasi, serta jaringan alumni.
Majelis ilmu, doa bersama, dan sosialisasi peradaban, katanya, tidak hanya dibangun dengan gedung dan beton, melainkan dengan kepercayaan, disiplin, persaudaraan, dan kejujuran.
Nahdlatul Wathan, yang berarti kebangkitan tanah air, sejak awal tidak mempertentangkan agama dan kebangsaan. Mencintai agama diwujudkan dengan membela bangsa, dan membela bangsa dilakukan dengan mencerdaskan rakyat melalui pendidikan. Dengan demikian, hubungan antara Nahdlatul Wathan, pendidikan, dan pembangunan bangsa merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. (gok)



