Lombok, barbareto.com – Salah seorang Mahasiswa Doktoral asal Lombok, Taufiq Kurniawan, berkesempatan menghadiri dan mempresentasikan penelitiannya dalam 13th Sino-European International Tourism Conference: Island & Coastal Tourism Futures (ICTF 2026) yang diselenggarakan pada 21–23 September 2026 di Heraklion, Crete, Yunani.
Konferensi yang diselenggarakan oleh Hellenic Mediterranean University tersebut mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk membahas masa depan pariwisata kepulauan dan wilayah pesisir.
Dalam konferensi tersebut, Taufiq mempresentasikan penelitiannya mengenai pariwisata berbasis masyarakat, Pembangunan daerah, dan ketahanan pariwisata di destinasi kepulauan, dengan Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebagai konteks empiris penelitiannya.
Ia menjelaskan, berbagai pengalaman di Pulau Lombok dalam menghadapi guncangan, mulai dari gempa bumi 2018 hingga pandemi COVID-19, menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan saja tidak cukup untuk menjamin ketahanan sebuah destinasi.
Penelitian itu baginya, menjadi semakin relevan di tengah berbagai bencana yang terjadi di Indonesia. Di Lombok sendiri, kata Taufiq, kebakaran melanda kawasan Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pada 22 Agustus 2026 dan berdampak pada permukiman serta aktivitas masyarakat di kawasan wisata budaya tersebut.
“Berbagai peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa destinasi wisata, khususnya di wilayah kepulauan, menghadapi beragam risiko yang dapat memengaruhi masyarakat dan aktivitas ekonomi lokal,” tandas Pria asal Dusun Mumbul, Desa Sikur, Kecamatan Sikur, Lombok Timur itu.
Lebih lanjut, Ia menuturkan hal serupa juga terlihat di berbagai daerah Indonesia lainnya, seperti kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), serta berbagai bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah.
Baginya, kondisi tersebut memperkuat pentingnya melihat pariwisata tidak hanya dari perspektif pertumbuhan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dan ekonomi lokal untuk menghadapi perubahan dan krisis.
“Saya mencoba melihat pariwisata bukan hanya dari sisi pertumbuhan. Pertanyaan yang lebih penting adalah, ketika terjadi krisis atau bencana, seberapa siap masyarakat dan ekonomi lokal untuk beradaptasi? Dan bagaimana pariwisata berbasis masyarakat dapat menjadi bagian dari jawabannya?,” ulasnya.
Melalui penelitian ini, Taufiq mengembangkan sebuah kerangka konseptual yang menempatkan pariwisata berbasis masyarakat sebagai titik awal, Pembangunan daerah sebagai mekanisme penghubung, dan ketahanan pariwisata sebagai hasil yang ingin diperkuat.
Menurutnya, masyarakat lokal tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan pariwisata, tetapi juga sebagai aktor yang memiliki peran penting dalam membangun ketahanan destinasi.
“Bagi saya, penelitian ini bukan hanya tentang pariwisata. Ini juga tentang bagaimana kita melihat kembali daerah asal kita. Lombok memiliki potensi pariwisata yang sangat besar, tetapi pada saat yang sama juga menghadapi berbagai risiko sebagai sebuah destinasi kepulauan yang cukup bergantung pada pariwisata,” jelasnya.
Membawa Isu Lombok ke Forum Internasional
Bagi Taufiq, merupakan kesempatan mempresentasikan penelitian tentang Lombok di forum internasional memiliki makna tersendiri. Ia berasal dari sebuah desa di Lombok dan kini menempuh pendidikan doktoral di Hungaria.
“Saya datang dari sebuah desa kecil di Lombok. Jadi ketika saya berbicara tentang Lombok di forum internasional, ada kebanggaan sekaligus tanggung jawab tersendiri bagi saya. Saya tidak hanya membawa sebuah topik penelitian, tetapi juga membawa cerita, persoalan, dan potensi daerah asal saya,” ucapnya.
Ia berharap penelitian tersebut nantinya dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian akademik sekaligus memberikan perspektif yang relevan bagi masyarakat, pemerintah daerah, pengelola destinasi, dan pemangku kepentingan pariwisata.
“Saya berharap penelitian ini nantinya tidak hanya memberikan kontribusi secara teoritis, tetapi juga dapat memberikan pemikiran yang berguna bagi masyarakat, pemerintah daerah, pengelola destinasi, dan para pemangku kepentingan pariwisata di Lombok,” lanjutnya.
Keikutsertaannya dalam ICTF 2026 juga menjadi kesempatan bagi Taufiq untuk mendapatkan masukan dari akademisi internasional sekaligus memperkenalkan konteks Lombok dalam diskusi global mengenai masa depan pariwisata kepulauan dan wilayah pesisir.
Melalui penelitian tersebut, ia ingin menyoroti bahwa keberhasilan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan jumlah wisatawan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat, ekonomi lokal, dan destinasi untuk beradaptasi terhadap berbagai guncangan dan perubahan. (gok)
